Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Lumajang Terkunci: Lahar Semeru Blokir Akses, Ratusan Warga Terisolasi

2025-12-26 | 22:35 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-26T15:35:49Z
Ruang Iklan

Lumajang Terkunci: Lahar Semeru Blokir Akses, Ratusan Warga Terisolasi

Banjir lahar hujan dari Gunung Semeru kembali memutus akses jalan utama di dua wilayah Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, selama bulan November dan Desember 2025, mengisolasi ratusan keluarga dan mengganggu aktivitas warga. Material vulkanik berupa pasir, batu, dan lumpur menimbun jembatan penghubung di Dusun Sumberlangsep, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro, pada awal Desember, menyebabkan 138 kepala keluarga terputus dari dunia luar. Sementara itu, pada awal November, banjir serupa mengisolasi sekitar 300 kepala keluarga di tiga dusun Desa Gondoruso, Kecamatan Pasirian, setelah memutus akses jalan dan merusak tanggul di beberapa titik.

Peristiwa ini bukan insiden tunggal melainkan manifestasi dari ancaman berulang yang dihadapi masyarakat di lereng Semeru setiap musim penghujan. Hujan deras dengan intensitas tinggi di puncak gunung menjadi pemicu utama, membawa material vulkanik sisa erupsi yang melimpah dan mengubahnya menjadi aliran lahar yang destruktif. Ahli vulkanologi dari ITB menjelaskan bahwa kombinasi air hujan dan kemiringan lereng memungkinkan aliran massa ini bergerak jauh, terutama mengikuti percabangan sungai. Banjir lahar dingin, sebagai hasil campuran material vulkanik lama dengan air hujan, memiliki daya rusak tinggi yang mampu menghanyutkan infrastruktur vital seperti jembatan dan mengikis lahan pertanian.

Di Sumberlangsep, akses utama menuju dusun tersebut terputus total akibat timbunan material lahar, memaksa sebagian warga mengamankan diri ke area perbukitan dan titik aman terdekat. Bupati Lumajang, Indah Amperawati, menyatakan pemerintah akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk menentukan langkah terbaik selama masa darurat hingga tahap pemulihan, meliputi aspek infrastruktur, kebutuhan warga terdampak, dan penguatan sistem mitigasi bencana di wilayah aliran Semeru. Indah juga menyoroti pentingnya penataan ruang dan relokasi sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko, mengingat Sumberlangsep telah lama tercatat sebagai zona rawan bencana.

Situasi serupa dialami di Desa Gondoruso, di mana Kepala Desa Maman Suparman mengonfirmasi tiga dusun—Kaliwelang, Liwek, dan Glendang Petung—terisolasi. Kerusakan jembatan limpas penghubung antara Kecamatan Pasirian dan Tempursari memaksa warga harus memutar melalui Kajaran dengan jarak tempuh sekitar 25 kilometer untuk dapat beraktivitas. Akibatnya, anak-anak sekolah dan warga lainnya mengalami kesulitan signifikan untuk beraktivitas sehari-hari.

Menanggapi krisis yang terus-menerus ini, Pemerintah Kabupaten Lumajang telah berkoordinasi intensif dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk pembukaan akses darurat. Salah satu langkah cepat yang segera direalisasikan adalah pembangunan jembatan gantung sepanjang sekitar 270 meter guna memulihkan mobilitas warga. Selain itu, upaya pengendalian aliran lahar juga terus dikerjakan untuk mencegah material melebar dan menimbulkan risiko baru. Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga dilaporkan telah memulai pengerjaan sodetan (saluran pengalih) untuk mengurangi risiko lahar dingin mengancam permukiman, meskipun proses pengerjaannya bersifat "on and off" karena kondisi alam yang masih dinamis dan berisiko.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan status Gunung Semeru berada pada Level III (Siaga), mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan dengan radius sejauh 13 kilometer dari puncak, serta menghindari aktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan yang berpotensi terdampak aliran lahar. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, telah mengingatkan para penambang pasir untuk menjauh dari seluruh Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berhulu di Semeru karena peningkatan debit air yang deras.

Fenomena banjir lahar hujan di Lumajang menunjukkan kerentanan geografis yang tinggi, di mana mitigasi bencana harus melibatkan perencanaan jangka panjang yang komprehensif. Relokasi warga dari zona rawan dan penataan ruang yang mempertimbangkan keselamatan, keberlanjutan hunian, dan kondisi lingkungan menjadi krusial dalam mengurangi dampak bencana di masa depan. Tanpa langkah-langkah adaptasi struktural dan non-struktural yang berkelanjutan, masyarakat di sekitar lereng Semeru akan terus menghadapi ancaman berulang yang mengikis kehidupan dan penghidupan mereka.