Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Longsor Mojokerto Robohkan Tembok Penahan, Satu Rumah Warga Rusak Berat

2025-12-26 | 04:01 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-25T21:01:32Z
Ruang Iklan

Longsor Mojokerto Robohkan Tembok Penahan, Satu Rumah Warga Rusak Berat

Puing-puing tembok penguat tanah (TPT) ambruk menerjang satu rumah warga di Desa Candiwates, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, menyusul hujan deras berkepanjangan pada Selasa, 24 Desember 2024, pukul 18.00 WIB, menimbulkan kerugian material signifikan dan menyoroti kerentanan infrastruktur di daerah rawan bencana. Insiden ini, yang terjadi di Dusun Kemuning, menyebabkan kerusakan parah pada bagian dapur dan kamar mandi rumah milik Bapak Surono, 45 tahun, namun tidak menimbulkan korban jiwa atau luka serius.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto segera merespons kejadian tersebut, melakukan asesmen awal dan mengevakuasi penghuni rumah ke tempat yang lebih aman. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Mojokerto, Yoes Noprima, menyatakan bahwa kerugian material diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah dan pihaknya akan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk penanganan lebih lanjut. Ia menambahkan, intensitas hujan yang tinggi menjadi pemicu utama longsornya TPT yang dibangun di atas tanah berkontur miring.

Peristiwa longsor di Mojokerto bukanlah kejadian terisolasi. Kabupaten ini, dengan topografi yang didominasi perbukitan dan pegunungan, secara historis sering dilanda bencana hidrometeorologi, terutama tanah longsor dan banjir bandang. Data dari BPBD Jawa Timur menunjukkan bahwa pada tahun 2023 saja, tercatat puluhan kejadian longsor skala kecil hingga menengah di berbagai wilayah Jawa Timur, termasuk Mojokerto, yang seringkali disebabkan oleh kombinasi curah hujan ekstrem dan kondisi tanah yang labil. Pola pembangunan permukiman di lereng atau dekat tebing, yang seringkali diikuti dengan pembangunan TPT tanpa kajian geoteknik memadai, turut memperburuk risiko.

Analisis struktur TPT yang ambruk di Desa Candiwates akan menjadi kunci untuk memahami lebih dalam penyebab kegagalan. Para ahli geoteknik sering menggarisbawahi pentingnya desain TPT yang memperhitungkan jenis tanah, beban di atasnya, serta drainase yang efektif. "Banyak TPT di daerah rawan longsor dibangun tanpa pertimbangan teknis yang komprehensif, hanya berdasarkan asumsi atau desain standar tanpa penyesuaian kondisi lapangan," jelas Dr. Ir. Budi Santoso, seorang pakar geoteknik dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. "Material yang digunakan, pondasi, hingga sistem drainase harus dievaluasi secara ketat untuk memastikan stabilitas jangka panjang, terutama di musim hujan ekstrem seperti saat ini."

Implikasi jangka panjang dari insiden ini meluas melampaui kerugian individual. Kejadian serupa berpotensi mengikis kepercayaan publik terhadap standar pembangunan infrastruktur lokal dan meningkatkan kekhawatiran akan keamanan hunian di daerah rawan. Pemerintah daerah dihadapkan pada tantangan untuk tidak hanya merespons bencana secara reaktif, tetapi juga mengembangkan strategi mitigasi yang lebih proaktif. Ini termasuk pemetaan ulang zona risiko bencana secara lebih detail, penegakan regulasi pembangunan yang lebih ketat, serta edukasi masyarakat tentang praktik pembangunan yang aman di area rawan longsor.

Meskipun TPT dimaksudkan sebagai solusi untuk mencegah erosi dan menstabilkan lereng, insiden di Mojokerto menyoroti bahwa tanpa perencanaan, desain, dan konstruksi yang tepat, struktur ini justru dapat menjadi ancaman. Revitalisasi standar teknis untuk pembangunan TPT dan audit rutin terhadap infrastruktur yang ada di zona risiko tinggi menjadi langkah krusial untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang, demi memastikan keamanan dan keberlanjutan hidup masyarakat di wilayah rawan bencana.