Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Lebak Porak-poranda Dihantam Cuaca Ekstrem Desember 2025: Ratusan Rumah Rusak, Satu Nyawa Melayang

2025-12-31 | 08:31 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-31T01:31:20Z
Ruang Iklan

Lebak Porak-poranda Dihantam Cuaca Ekstrem Desember 2025: Ratusan Rumah Rusak, Satu Nyawa Melayang

Hujan ekstrem sepanjang Desember 2025 telah menyebabkan kerusakan parah di Kabupaten Lebak, Banten, menghancurkan 146 rumah dan merenggut satu nyawa. Insiden tragis ini terjadi di Desa Cipayung, Kecamatan Cipanas, di mana seorang warga meninggal dunia setelah rumahnya tertimpa reruntuhan tanah akibat longsor pada malam hari sekitar sepekan lalu, menjadikannya salah satu dari tiga korban jiwa yang tercatat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lebak sepanjang bulan ini.

Data BPBD Kabupaten Lebak menunjukkan bahwa intensitas hujan lebat disertai angin kencang dan petir memicu setidaknya 36 kejadian bencana alam, meliputi banjir, tanah longsor, angin kencang, dan pergerakan tanah, yang tersebar di 23 kecamatan dan 70 desa antara tanggal 6 hingga 30 Desember 2025. Dari total rumah yang rusak, 56 unit dikategorikan rusak berat, 58 rusak ringan, dan 32 rusak sedang. Selain itu, 184 rumah terendam banjir, 8 jembatan terdampak, dan 10 akses jalan terganggu, menyebabkan hambatan signifikan pada aktivitas masyarakat di berbagai wilayah. Kerugian juga meluas pada infrastruktur publik, dengan 29 titik infrastruktur termasuk jalan, fasilitas umum, dan fasilitas sosial mengalami kerusakan.

Kepala BPBD Kabupaten Lebak, Sukanta, mengimbau masyarakat untuk tetap mewaspadai cuaca ekstrem yang diprediksi masih akan berlanjut hingga Februari 2026, sesuai laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pihak BPBD telah melaporkan kejadian ini kepada pimpinan daerah dan segera menyalurkan bantuan logistik untuk meringankan beban ekonomi korban serta memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi. Penjabat (Pj.) Sekretaris Daerah Kabupaten Lebak, Halson Nainggolan, pada 20 Desember 2025, telah memimpin rapat evaluasi penanganan dampak bencana, melibatkan BPBD dan Dinas Sosial, untuk memantau perkembangan dan menginventarisasi kesiapan logistik.

Sekretaris BPBD Kabupaten Lebak, Febby Rizky Pratama, menjelaskan bahwa rangkaian bencana hidrometeorologi ini dipicu oleh tingginya intensitas hujan disertai angin kencang. Ia juga menyoroti prediksi BMKG terkait aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) dan anomali suhu muka laut positif yang meningkatkan pembentukan awan hujan tebal hingga awal 2026. BMKG sendiri telah memperingatkan bahwa potensi cuaca ekstrem, termasuk hujan lebat hingga sangat lebat dan angin kencang hingga 45 km/jam, akan berlanjut di wilayah Banten, termasuk Lebak, hingga setidaknya 3 Januari 2026, sebagian besar dipengaruhi oleh Siklon Tropis Hayley di Samudra Hindia.

Lebak, yang dikenal sebagai salah satu wilayah rawan bencana di Banten, terus menghadapi tantangan dalam mitigasi. Wakil Bupati Lebak, Amir Hamzah, sebelumnya menyampaikan apresiasinya terhadap program Pooling Fund Bencana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), mengakui bahwa banyak rencana mitigasi pasca-bencana besar tahun 2020 tertunda selama lima tahun. Kondisi ini menggarisbawahi urgensi penguatan program mitigasi jangka panjang.

Pakar hidrometeorologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Armi Susandi, menyoroti peningkatan temperatur permukaan laut antara Jawa dan Kalimantan yang dapat memicu bencana dahsyat, diperparah oleh aliran massa udara dari Laut China Selatan dan Australia. Lebih lanjut, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, pada Maret 2025, telah menegaskan bahwa perubahan iklim telah mencapai tahap kritis, dengan kekeringan dan banjir yang semakin parah setiap tahunnya, serta tren peningkatan curah hujan ekstrem di Indonesia yang berkorelasi langsung dengan kenaikan suhu permukaan global.

Bencana hidrometeorologi yang berulang di Lebak ini bukan hanya manifestasi dari kondisi geografis dan iklim tropis, melainkan juga cerminan dari dampak perubahan iklim dan mungkin kurangnya perencanaan tata ruang yang berbasis ketahanan bencana. Program-program seperti Desa Tangguh Bencana yang digagas BPBD Provinsi Banten, bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengidentifikasi, menganalisis, dan memantau risiko bencana di tingkat desa, menjadi krusial untuk membangun kesiapsiagaan yang lebih responsif dan berkelanjutan. Tanpa upaya serius dalam perlindungan lingkungan, penataan ruang, dan peningkatan kesadaran ekologis, Lebak akan terus rentan terhadap ancaman cuaca ekstrem di masa mendatang.