:strip_icc()/kly-media-production/medias/5451214/original/080194300_1766242824-banjir_bandang_guci_tegal.jpg)
Air bah menerjang objek wisata air panas Pancuran 13 Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, pada Sabtu, 20 Desember 2025, setelah hujan deras berintensitas tinggi mengguyur wilayah hulu Sungai Gung sejak siang hari. Insiden ini secara efektif menghancurkan kolam pemandian Pancuran 13, merusak sejumlah fasilitas utama, menghanyutkan pipa-pipa penyalur air panas, serta merobohkan jembatan kecil di area tersebut. Meskipun demikian, tidak ada laporan korban jiwa dalam peristiwa mengerikan ini.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, menjelaskan bahwa banjir bandang dipicu oleh curah hujan yang sangat tinggi di kawasan lereng Gunung Slamet. Intensitas hujan yang berangsur lama menyebabkan aliran Sungai Gung meluap drastis, membawa serta material lumpur, pasir, dan bebatuan yang menutupi sebagian besar area wisata Pancuran 13. Petugas Pancuran 13, Jam Zami, mencatat banjir mulai terjadi sekitar pukul 15.00 WIB. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kejadian ini pada pukul 16.30 WIB.
Dalam respons cepat, area wisata Pancuran 13 langsung ditutup sementara untuk umum demi alasan keamanan dan proses pembersihan material banjir. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengimbau masyarakat di sepanjang aliran Sungai Gung, termasuk wilayah Balapulang, Dukuhwaru, Adiwerna, hingga kawasan Pantura, untuk meningkatkan kewaspadaan. Bupati Tegal, Ischak Maulana Rohman, menegaskan bahwa meskipun Pancuran 13 terdampak parah, secara umum kawasan wisata Guci lainnya aman dan tetap dapat dikunjungi, dengan perbaikan infrastruktur yang rusak ditargetkan selesai dalam tujuh hari.
Peristiwa ini kembali menyoroti kerentanan ekologis kawasan wisata Guci yang terletak di lereng Gunung Slamet, dengan kontur perbukitan dan dilalui banyak aliran sungai kecil. Meskipun curah hujan tinggi menjadi pemicu langsung, sejumlah pihak dan ahli lingkungan menekankan bahwa faktor-faktor lain, seperti perubahan tutupan lahan, alih fungsi lahan, berkurangnya area resapan air di hulu, dan pembangunan fasilitas wisata yang terlalu dekat dengan aliran sungai, memperparah dampak banjir. Direktur Lingkar Kajian Analisis Lingkungan (MALIKA), Jatmiko, mendesak investigasi menyeluruh terhadap dugaan aktivitas ilegal di hulu sungai yang melintasi kawasan Guci sebagai penyebab tidak langsung bencana ini.
Ancaman bencana hidrometeorologi, seperti banjir bandang, diperkirakan akan meningkat seiring dengan perubahan iklim dan degradasi lingkungan. Mantan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, sebelumnya telah mengingatkan masyarakat untuk selalu memeriksa perkembangan cuaca dan menghindari area rawan bencana seperti lereng terjal dan bantaran sungai saat hujan lebat. Banjir di Guci bukan sekadar fenomena alam biasa, melainkan alarm keras tentang perlunya evaluasi komprehensif terhadap tata ruang, praktik pengelolaan lingkungan, dan kepatuhan terhadap regulasi pembangunan di kawasan hulu guna mencegah terulangnya tragedi serupa di masa mendatang.