Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Kronologi Kebakaran Pasar Pagi Pemalang Hanguskan Ratusan Kios, Api Baru Bisa Padam Rabu Pagi

2025-12-26 | 03:20 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-25T20:20:27Z
Ruang Iklan

Kronologi Kebakaran Pasar Pagi Pemalang Hanguskan Ratusan Kios, Api Baru Bisa Padam Rabu Pagi

Kobaran api yang melalap ratusan kios di Pasar Pagi Pemalang pada Selasa malam, 23 Desember 2025, baru dapat dipadamkan secara menyeluruh pada Rabu pagi, 24 Desember 2025. Peristiwa ini menghanguskan 102 lapak dan 18 kios, mayoritas pedagang pakaian, sepatu, tas, dan boneka, serta menimbulkan kerugian materiil ditaksir mencapai miliaran rupiah tanpa adanya korban jiwa. Insiden yang diduga kuat dipicu oleh korsleting listrik dari salah satu kios pakaian ini kembali menyoroti kerentanan pasar tradisional terhadap bencana kebakaran serta urgensi revitalisasi tata kelola pasar di Jawa Tengah.

Api mulai berkobar sekitar pukul 17.30 WIB pada Selasa petang, dengan seorang pedagang sandal, Uswatun (42), melaporkan mendengar ledakan dari dalam kios pakaian sebelum api membesar dan menyebar cepat. Percikan api terlihat menjalar hingga ke bagian atas kios, yang kemudian dengan cepat melahap bangunan semi permanen dan permanen yang sebagian besar terbuat dari kayu. Petugas pemadam kebakaran dari Pemalang, dibantu unit dari Tegal dan Pekalongan, berjibaku memadamkan api. Koordinator Lapangan Damkar Pemalang, Sodikin, mengungkapkan bahwa minimnya sirkulasi udara di area belakang pasar yang tertutup dinding bangunan menjadi kendala signifikan dalam proses pemadaman dan pendinginan. Angin kencang saat kejadian juga mempercepat jilatan api. Hingga Rabu pagi, titik-titik api masih ditemukan, terutama di bagian belakang pasar, mengharuskan petugas untuk melokalisasi agar api tidak merembet kembali.

Kepolisian Resor Pemalang, yang dipimpin oleh Kapolres AKBP Rendy Setia Permana, segera mengamankan lokasi dan membantu pedagang mengevakuasi barang dagangan yang masih bisa diselamatkan. Penyelidikan lebih lanjut mengenai penyebab pasti kebakaran tengah dilakukan oleh Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jawa Tengah yang diterjunkan ke lokasi pada Rabu, 24 Desember 2025, untuk mengolah tempat kejadian perkara (TKP). Kasatreskrim Polres Pemalang, AKP Johan Widodo, menyatakan bahwa tim Labfor akan menganalisis sampel material terbakar dan memetakan pola sebaran api.

Musibah ini memicu seruan dari berbagai pihak mengenai tanggung jawab pemerintah dan urgensi perbaikan infrastruktur pasar. Praktisi hukum, Dr. (c) Imam Subiyanto, S.H., M.H., CPM, menegaskan bahwa pemerintah daerah memiliki tanggung jawab konstitusional untuk mengganti kerugian pedagang, mengingat pasar adalah fasilitas publik yang dikelola negara. Ia mendesak DPRD Kabupaten Pemalang untuk proaktif mengawasi kebijakan pasca-kebakaran demi kepentingan pedagang kecil. Senada, Anggota Komisi A DPRD Kabupaten Pemalang, Heru Kundhimiarso, telah meminta Pemerintah Kabupaten Pemalang untuk membentuk tim investigasi independen terkait peristiwa ini.

Dari tingkat nasional, anggota Komisi VI DPR RI, Rizal Bawazier, mendesak Kementerian Perdagangan untuk segera turun tangan. Bawazier juga mengungkapkan bahwa Pasar Pagi Pemalang telah masuk dalam skema revitalisasi pasar modern pada tahun 2026 atau 2027. Peristiwa ini, menurut Ir. Toto Susilo dari G-news.id, bukan sekadar kecelakaan teknis melainkan "kegagalan sistemik" yang mencerminkan tata kelola pasar yang semrawut, minimnya standar keselamatan, dan lemahnya pengawasan di pasar-pasar tradisional, khususnya di kawasan Pantura Jawa Tengah. Pasar-pasar tersebut sering kali berkembang tanpa perencanaan matang, dengan lapak yang berdempetan, instalasi listrik yang rentan, serta akses pemadam yang terbatas.

Sebagai perbandingan, beberapa pasar di Jawa Tengah telah mulai menerapkan sistem mitigasi kebakaran yang lebih modern. Pasar Banjarsari di Pekalongan, misalnya, yang terbakar pada 2018, kini dilengkapi dengan sistem zonasi, alat pemadam api ringan (APAR), hidran air, ruang kontrol terpusat, dan cadangan air (ground water tank) berkapasitas 200 kubik yang dirancang untuk memadamkan api dalam satu jam. Sementara itu, Pasar Kota Sragen masih menghadapi tantangan dengan fasilitas anti-kebakaran yang minim, hanya memiliki enam dari ideal 12 unit APAR dan satu hidran air yang berfungsi dari kebutuhan tiga unit. Kondisi ini menyoroti bahwa kebakaran Pasar Pagi Pemalang merupakan alarm keras bagi pemerintah daerah di seluruh Jawa Tengah untuk mengevaluasi dan meningkatkan standar keselamatan serta penataan ulang pasar tradisional secara komprehensif. Upaya rehabilitasi dan penyediaan pasar darurat kini menjadi prioritas utama guna memastikan keberlangsungan ekonomi para pedagang yang terdampak.