:strip_icc()/kly-media-production/medias/5430430/original/063739100_1764662984-Korban_banjir_mencari_istri.png)
Langkah kaki Abdul Gani (57) tak berhenti menyusuri puing-puing dan posko pengungsian, membawa secarik foto kertas istrinya, Marsoni (52), yang hilang diterjang banjir bandang. Bencana yang akrab disebut "galodo" tersebut melanda Nagari Salareh Aia Timur, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada Kamis, 27 November 2025, sekitar pukul 17.00 WIB. Banjir bandang tidak hanya merusak permukiman di Salareh Aia dan Salareh Aia Timur, tetapi juga memisahkan Gani dari belahan jiwanya.
Saat kejadian, Abdul Gani sedang dalam perjalanan pulang setelah berjualan krepes dan es krim tradisional keliling. Sekitar pukul 17.30 WIB, ia terjebak di Jorong Munggun, tak bisa kembali ke rumahnya karena permukiman telah berubah menjadi "lautan" air berlumpur. Sementara itu, Marsoni berada sendirian di rumah mereka di Jorong Subarang Aia, Nagari Salareh Aia Timur, yang tak luput dari hantaman galodo.
Sejak saat itu, Gani tak henti-hentinya mencari sang istri. Selama lima hari, dengan berbekal foto Marsoni yang dicetak di selembar kertas HVS, Gani berkeliling mendatangi satu per satu posko pengungsian dan pos lapangan tanggap darurat bencana. Ia menunjukkan foto istrinya yang mengenakan jilbab hitam itu kepada siapa saja yang ditemui, berharap mendapat kabar baik. Gani juga menyambangi Puskesmas Koto Alam, Nagari Salareh Aia, yang menjadi posko penanganan jenazah korban, memeriksa setiap jenazah yang datang, namun Marsoni belum juga ditemukan. Nomor telepon istrinya sempat aktif, tetapi tidak diangkat, hingga kabar mengenai desanya yang rata dengan tanah datang keesokan harinya.
Tragedi ini semakin memperdalam duka Gani, yang kini hidup sebatang kara setelah putri tunggalnya meninggal dunia lima tahun lalu karena sakit. Hingga kini, keberadaan Marsoni masih belum jelas. Data dari Posko Penanggulangan Bencana Alam Polres Agam mencatat, korban jiwa akibat banjir bandang di Kecamatan Palembayan telah mencapai 116 orang hingga Senin sore, 1 Desember 2025, dan belum semuanya teridentifikasi. Di seluruh Sumatera Barat, total 193 warga meninggal dunia dan 116 lainnya masih dinyatakan hilang.