:strip_icc()/kly-media-production/medias/5434632/original/057227700_1764936819-banjir_di_lampung_1.jpg)
Hujan deras yang mengguyur wilayah Lampung sejak awal Desember 2025 telah memicu serangkaian bencana banjir, longsor, dan angin puting beliung, meninggalkan jejak kerusakan dan kejutan bagi banyak warganya. Fenomena ini diwarnai dengan pengakuan sejumlah warga yang mengalami banjir untuk pertama kalinya, menciptakan ingatan pahit di tengah kondisi darurat.
Di Desa Kapuran, Kelurahan Pasar Madang, Kecamatan Kota Agung, Kabupaten Tanggamus, Sella Anggraini (26) mengungkapkan keterkejutannya saat air mulai merayap masuk ke rumahnya pada Rabu (3/12/2025). Meskipun rumahnya berada di dataran tinggi dan seumur hidup tidak pernah tersentuh banjir, air tiba-tiba menerjang hingga setinggi lutut di ruang tamu dan bahkan mencapai pinggang di bagian depan rumah. "Kaget banget, ini pertama kali rumah kami kemasukan air. Selama ini hujan deras juga aman. Jadi pas hujan sebelum air masuk kemarin itu ya santai-santai aja. Tapi ternyata kebajiran," ujarnya. Akibatnya, kain, kasur, dan pakaian terendam lumpur, meski beruntung sambungan listrik dan motornya aman.
Rangkaian bencana yang terjadi pada awal Desember ini berdampak di empat kabupaten: Pesisir Barat, Tanggamus, Lampung Utara, dan Lampung Selatan. Humas BPBD Provinsi Lampung, Wahyu Hidayat, mengonfirmasi bencana beruntun tersebut dan menyatakan pendataan masih terus dilakukan di lapangan pada Kamis (4/12/2025). Total, sedikitnya 115 rumah dan 350 warga di dua kabupaten terdampak banjir, meskipun air dilaporkan sudah surut dan tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.
Sebelumnya, pada akhir November dan awal tahun 2025, Lampung juga telah dilanda banjir parah. Pada Jumat (17/1/2025), hujan lebat menyebabkan tujuh kabupaten/kota terdampak banjir, dengan Kota Bandar Lampung menjadi daerah yang paling parah. Data BPBD Provinsi Lampung mencatat 14.160 rumah warga di 16 kecamatan terdampak, dengan 11.223 jiwa merasakan dampaknya. Empat kecamatan yang paling parah terdampak di Bandar Lampung adalah Bumi Waras, Panjang, Teluk Betung Selatan, dan Teluk Betung Timur. Banjir pada Januari 2025 itu juga merenggut dua korban jiwa. Kemudian pada Februari 2025, curah hujan ekstrem juga menyebabkan banjir di Bandar Lampung dengan 23 titik terendam dan mengakibatkan tiga orang meninggal dunia. Pada saat itu, Kementerian Sosial menyalurkan bantuan sebesar Rp 568 juta untuk masyarakat terdampak di Bandar Lampung dan sekitarnya.
Penyebab banjir di Lampung secara umum diidentifikasi akibat intensitas hujan yang tinggi, buruknya sistem drainase, serta sedimentasi dan tumpukan sampah yang menyumbat saluran air. Luapan sungai seperti Sungai Kali Bego di Tanggamus juga menjadi faktor setelah tanggulnya jebol. Penjabat (Pj) Gubernur Lampung Samsudin pada Januari 2025 secara khusus menyebut buruknya drainase sebagai penyebab banjir di Kota Bandar Lampung. Infrastruktur drainase yang tidak mampu menampung volume air hujan yang tinggi dan kurangnya sistem resapan yang memadai turut memperparah kondisi ini. Selain itu, tutupan lahan yang menyebabkan air hujan tidak terserap maksimal ke tanah juga menciptakan limpahan air yang tak terkendali.
Pemerintah Provinsi Lampung telah mengambil langkah-langkah penanganan, termasuk meningkatkan status tanggap darurat dan berkoordinasi dengan BPBD serta Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung (BBWS-MS) untuk mengangkat sedimentasi di aliran sungai. Edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah ke saluran air juga terus digalakkan.