:strip_icc()/kly-media-production/medias/5435957/original/081096800_1765120970-trail_run_kemenpar.jpg)
Keluarga dari Sigit Joko Poernomo, pejabat Kementerian Pariwisata (Kemenpar) yang meninggal dunia saat mengikuti ajang lari lintas alam Siksorogo Lawu Ultra 2025 pada Minggu, 7 Desember 2025, mengungkapkan bahwa almarhum tidak memiliki riwayat penyakit jantung dan dikenal memiliki kondisi fisik yang prima. Sigit Joko Poernomo, yang menjabat sebagai Kepala Biro Umum dan Hukum Kemenpar, meninggal di rute lomba yang menantang di lereng Gunung Lawu, Karanganyar.
Adik ipar almarhum, Janes Cucuk Hartanto, memastikan bahwa Sigit Joko Poernomo dalam keadaan sehat sebelum berpartisipasi dalam Siksorogo Lawu Ultra 2025. "Sebelum mengikuti lari (Siksorogo Lawu Ultra) dia itu sehat. Dia itu senang hiking juga, hobi memang hiking kayak gitu," ujar Janes saat ditemui di rumah duka, Senin (8/12/2025). Janes menambahkan bahwa aktivitas olahraga lari, mendaki, dan trail run bukanlah hal baru bagi Sigit. Almarhum disebut memiliki kebiasaan berolahraga setiap hari, termasuk jalan kaki dan bahkan memiliki alat kebugaran kecil di rumahnya di Jakarta. Menurut keluarga, Sigit juga rutin menjalani tes kesehatan fisik dan hasilnya menunjukkan kondisi yang bagus, meskipun terkadang ia mengalami kelelahan akibat beban pekerjaan yang padat. Sehari sebelum kejadian tragis tersebut, Sigit sempat pulang ke rumah orang tuanya di Dusun Buran Wetan, Desa Buran, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar, bersama seorang teman.
Sigit Joko Poernomo, 45 tahun, dinyatakan meninggal dunia setelah kolaps di Bukit Mitis KM 12 saat mengikuti lomba lari Siksorogo Lawu Ultra 2025. Meskipun ada laporan berbeda mengenai kategori yang diikutinya, sebagian besar sumber menyebutkan ia berlari di kategori 15 kilometer. Namun, ada pula laporan yang menyebutkan ia kolaps di rute 7 km. Pihak kepolisian dan panitia penyelenggara menduga Sigit mengalami serangan jantung, meskipun keluarga membantah adanya riwayat penyakit jantung. Kondisi cuaca ekstrem dengan hujan deras dan jalur licin di lereng Gunung Lawu disebut menjadi salah satu faktor yang memperberat jalannya lomba.
Selain Sigit Joko Poernomo, peserta lain bernama Pujo Buntoro, 55 tahun, seorang pegawai Kementerian Agama Karanganyar, juga meninggal dunia dalam ajang yang sama. Pujo diketahui memiliki riwayat penyakit paru-paru dan kolaps di rute yang berbeda. Kedua jenazah telah dievakuasi ke RSUD Karanganyar, dan keluarga Sigit meminta hanya dilakukan visum luar. Panitia penyelenggara Siksorogo Lawu Ultra 2025 menegaskan bahwa setiap peserta telah menyerahkan surat keterangan sehat dari dokter sebagai syarat pendaftaran. Tragedi ini menjadi perhatian serius dan penyelidikan lebih lanjut masih dilakukan oleh pihak kepolisian untuk memastikan penyebab pasti kematian kedua pelari tersebut.