:strip_icc()/kly-media-production/medias/5436027/original/095134200_1765154262-WhatsApp_Image_2025-12-08_at_06.10.04.jpeg)
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta warga yang tinggal di sekitar lokasi bencana tanah longsor di Kampung Condong, RT.06 dan RT.07 RW.09, Desa Wargaluyu, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih aman. Permintaan ini menyusul potensi tinggi terjadinya gerakan tanah susulan di kawasan tersebut.
Plt Kepala Badan Geologi, Lana Saria, pada Senin (8/12/2025), menyatakan bahwa daerah Arjasari masih sangat berpotensi mengalami longsor susulan. Hal ini disebabkan oleh curah hujan yang masih tinggi, kondisi tanah pelapukan yang gembur dan berongga, serta sistem drainase permukaan yang kurang baik, yang menyebabkan akumulasi air di area gerakan tanah. Analisis geologi menunjukkan bahwa longsor yang terjadi sejak Jumat (5/12/2025) sore ini merupakan tipe rotasional, yaitu pergerakan massa tanah yang berputar pada bidang gelincir cekung, diperparah oleh batuan Andesit Waringin-Bedil dan Malabar Tua yang mudah meluruh saat jenuh air. Wilayah Arjasari juga termasuk dalam Zona Kerentanan Menengah gerakan tanah berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah Desember 2025.
Bencana longsor yang dipicu hujan deras dan alih fungsi lahan dari hutan menjadi kebun palawija di lereng Gunung Sinapeul (juga disebut Gunung Sinapeiul) setinggi sekitar 80 meter ini, telah menimbun setidaknya lima rumah warga hingga rusak berat dan menyebabkan tiga orang masih dinyatakan hilang serta satu orang mengalami luka-luka. Hingga Senin (8/12/2025), upaya pencarian korban yang masih tertimbun terus dilakukan oleh tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan, meskipun terkendala cuaca dan kondisi tanah yang masih labil. Lana Saria mengimbau petugas SAR untuk berhati-hati dan tidak melakukan pencarian saat atau setelah hujan deras karena risiko longsor susulan yang dapat membahayakan.
Akibat bencana ini, ratusan warga telah dievakuasi. Data pengungsian bervariasi, dengan beberapa laporan menyebutkan 337 jiwa dari RT 06 dan RT 07/RW 09 mengungsi di posko darurat dan rumah warga. Sementara itu, data lain mencatat sekitar 400 hingga 762 jiwa dari beberapa Rukun Tetangga (RT 04, RT 05, RT 06, dan RT 07) telah meninggalkan rumah mereka. Pemerintah Kabupaten Bandung telah menetapkan status tanggap darurat bencana hingga 19 Desember 2025 untuk mengoptimalkan penanganan.
Badan Geologi merekomendasikan relokasi total bagi bangunan atau rumah warga yang terdampak gerakan tanah ke daerah yang lebih aman. Selain itu, disarankan pemasangan rambu-rambu rawan gerakan tanah dan jalur evakuasi, serta perbaikan sistem penataan air permukaan (drainase) di sekitar lokasi bencana dan daerah yang berpotensi terjadi longsor susulan. Pemerintah Kabupaten Bandung melalui Bupati Dadang Supriatna telah menginstruksikan BPBD untuk memenuhi kebutuhan dasar pengungsi, termasuk penyediaan dapur umum. Rencana relokasi warga terdampak ke lokasi yang lebih aman juga sedang dibahas, dengan pihak desa diminta menyiapkan lahan untuk pembangunan rumah baru.