Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Kades Lampung Timur Gugur Hadang Gajah Liar Demi Keselamatan Warga

2025-12-31 | 17:01 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-31T10:01:30Z
Ruang Iklan

Kades Lampung Timur Gugur Hadang Gajah Liar Demi Keselamatan Warga

Darusman, Kepala Desa Braja Asri, Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur, meninggal dunia pada Rabu (31/12/2025) setelah diserang gajah liar saat berupaya menghalau kawanan satwa tersebut yang mendekati persawahan dan permukiman warga. Insiden tragis ini terjadi sekitar pukul 10.00 WIB, dengan Darusman mengalami luka serius akibat terinjak gajah dan mengembuskan napas terakhirnya setelah menjalani perawatan intensif di RSUD Sukadana, Lampung Timur.

Peristiwa ini menyoroti kembali eskalasi konflik antara manusia dan gajah di Lampung, khususnya di wilayah penyangga Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Kawanan gajah liar dari TNWK diketahui sering memasuki area pertanian warga di sekitar Desa Braja Asri dan desa-desa penyangga lainnya, menyebabkan kerusakan tanaman dan memicu kepanikan warga. Sepanjang tahun 2024, Balai TNWK mencatat 242 kali interaksi negatif gajah dengan manusia, meningkat dua kali lipat dibandingkan 114 kejadian pada tahun 2023. Data dari Dinas Kehutanan Provinsi Lampung juga menunjukkan bahwa Lampung mencatat 1.658 kasus konflik manusia dan satwa liar akibat berkurangnya habitat satwa dari tahun 2021 hingga 2025.

Penyebab utama konflik ini adalah penyusutan habitat asli gajah akibat deforestasi dan alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit, perkebunan kayu, serta permukiman. Kawasan hutan tropis Sumatera telah kehilangan 70% luas habitat gajah dalam 25 tahun terakhir. Akibatnya, gajah-gajah kesulitan menemukan pakan di habitat alaminya dan terpaksa masuk ke perkebunan warga untuk mencari makan, merusak tanaman seperti jagung, padi, singkong, pisang, dan sawit. Koordinator Umum Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (FOKSI) Tony Sumampau menyebut bahwa alih fungsi hutan menjadi perkebunan dan permukiman berdampak pada kawasan habitat jelajah gajah, sehingga pakan menjadi terbatas dan konflik tidak dapat dihindari.

Populasi gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) sendiri berada dalam status kritis. Pada tahun 2011, IUCN menetapkan status konservasi gajah Sumatera ke dalam kategori Critically Endangered (CR), yang berarti satwa ini berada di ambang kepunahan. Estimasi populasi terus menyusut, dari sekitar 4.800 ekor pada tahun 1985 menjadi 2.400-2.800 ekor pada tahun 2007. Data terbaru dari Kementerian Kehutanan pada Agustus 2025 mencatat sekitar 1.100 ekor gajah hidup di 22 lanskap di Sumatera.

Berbagai upaya mitigasi konflik telah dilakukan, termasuk pembangunan tanggul dan kanal di sekitar TNWK sejak tahun 1990-an, pembentukan tim terpadu penanganan konflik di Lampung Timur melalui SK Bupati tahun 2022, hingga penyusunan peta jalan dan rencana aksi penanganan konflik manusia-gajah. Masyarakat di desa-desa penyangga juga melakukan upaya penghalauan, terkadang dengan alat seadanya seperti mercon atau gubuk jaga, dan melaporkan kejadian kepada petugas berwenang. Namun, insiden kematian Darusman menunjukkan bahwa strategi mitigasi yang ada masih belum cukup efektif untuk menjamin keselamatan warga maupun kelestarian satwa.

Kematian seorang kepala desa dalam upaya melindungi warganya dari ancaman gajah liar menggarisbawahi urgensi pendekatan multidimensi dan sinergi berbagai pemangku kepentingan. Kepala Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Agus Wahyudiyono pada tahun 2017 pernah menekankan perlunya pendekatan dari sisi ekologi, ekonomi, dan sosial yang disinergikan untuk mitigasi konflik yang optimal dan berkesinambungan. Tanpa solusi komprehensif yang mengatasi akar masalah hilangnya habitat dan fragmentasi jalur jelajah gajah, insiden serupa kemungkinan besar akan terus berulang, memperdalam tragedi konservasi dan kemanusiaan di Sumatera. Pemerintah Provinsi Lampung, bersama instansi terkait dan lembaga konservasi, dituntut untuk memperkuat lembaga satgas, merehabilitasi ekosistem, serta memberikan edukasi dan dukungan yang lebih baik kepada masyarakat untuk mencapai koeksistensi yang berkelanjutan.