Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Jalan Sukabumi Terputus: Banjir dan Longsor Mencekam, Cuaca Ekstrem & Sampah Jadi Pemicu Utama

2025-12-05 | 09:30 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-05T02:30:46Z
Ruang Iklan

Jalan Sukabumi Terputus: Banjir dan Longsor Mencekam, Cuaca Ekstrem & Sampah Jadi Pemicu Utama

Sukabumi, Jawa Barat – Wilayah Sukabumi kembali dilanda serangkaian bencana hidrometeorologi, mulai dari banjir limpasan hingga tanah longsor, yang telah menutup akses sejumlah jalan dan mengancam pemukiman warga. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menegaskan bahwa kejadian ini dipicu oleh cuaca ekstrem dengan intensitas hujan tinggi serta diperparah oleh tumpukan sampah yang menyumbat saluran air.

Pada Kamis, 4 Desember 2025, Kabupaten Sukabumi mencatat 11 insiden bencana akibat hujan deras yang tersebar di sembilan kecamatan, termasuk Cibadak, Nagrak, Gunungguruh, Cicantayan, Sukaraja, Cidolog, Kadudampit, Cisolok, dan Simpenan. Manajer Pusdalops BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, melaporkan bahwa longsor mendominasi kejadian tersebut, menyebabkan Tembok Penahan Tanah (TPT) jalan kabupaten di Kampung Cibatu Hilir, Desa Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, amblas sepanjang 20 meter dengan tinggi 6 meter. Insiden ini menutup akses jalan desa dan mengancam empat rumah warga, yang penghuninya telah diungsikan untuk mengantisipasi longsor susulan.

Di Kecamatan Nagrak, tanah tebing longsor sepanjang 10 meter dengan tinggi 7 meter di Kampung Kebon Kerep, Desa Darmareja, mengancam dua rumah dan hampir memutus jalan gang vital yang mengganggu akses bagi 4 Kepala Keluarga (KK). Sementara itu, di Kecamatan Simpenan, sebuah pohon tumbang sempat menutup total Jalan Bagbagan - Mekarasih, namun berhasil dievakuasi tim gabungan sehingga jalan kembali bisa dilalui. Bencana juga berdampak pada fasilitas pendidikan, seperti ambruknya lantai dua MTS Yaspi di Desa Cantayan, Kecamatan Cicantayan, dan ambruknya TPT pagar depan SMA 1 Cisolok. BPBD menduga kerobohan ini dipicu oleh cuaca ekstrem ditambah dengan kondisi material bangunan yang sudah lapuk.

Di Kota Sukabumi, cuaca ekstrem pada Rabu, 3 Desember 2025, memicu banjir limpasan dan tanah longsor di tujuh titik lokasi berbeda. Kepala Pelaksana BPBD Kota Sukabumi, Yoseph Sabaruddin, menjelaskan bahwa penyebab utama adalah hujan deras disertai angin kencang serta adanya penyumbatan sampah dan saluran drainase yang tidak berfungsi optimal. Banjir limpasan terjadi di beberapa ruas jalan vital seperti Jalan Lio Kampung Babakan, Jalan Dwikora, dan Jalan Gunungkarang, yang menyebabkan satu rumah warga terendam, serta fasilitas pendidikan seperti PAUD, MDTA Safinatul Falaah, dan Pesantren Jamiatul Quro ikut tergenang. Tanah longsor juga terjadi di Jalan Lingkar Selatan Kampung Cibitung, yang materialnya sempat menutup saluran air. Yoseph memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian bencana terbaru ini di Kota Sukabumi.

Fenomena cuaca ekstrem memang menjadi ancaman serius bagi Sukabumi. Sebelumnya, pada awal Agustus 2025, banjir limpasan juga melumpuhkan jalan-jalan strategis di Kota Sukabumi, termasuk Jalan Dewi Sartika, Jalan Arif Rahman Hakim, dan Jalan Prana. Kepala Pelaksana BPBD Kota Sukabumi, Novian Rahmat Taupik, menyebutkan bahwa tumpukan sampah di saluran drainase menjadi biang kerok utama banjir tersebut, bahkan di area belakang Balai Kota Sukabumi. Sampah-sampah ini diduga berasal dari limbah jajanan pedagang kaki lima dan masyarakat yang membuang sampah sembarangan.

Kondisi serupa juga terjadi pada Desember 2024, di mana Kabupaten Sukabumi dilanda banjir bandang dan tanah longsor yang lebih masif, menyebabkan kerusakan di 29 kecamatan dengan lima korban jiwa yang kemudian bertambah menjadi sepuluh orang meninggal dunia dan dua orang masih dalam pencarian. Bencana tersebut juga mengakibatkan 589 rumah rusak, 3.497 jiwa terdampak, dan 1.400 orang mengungsi, bahkan akses jalan dan jembatan terputus. BNPB mencatat bahwa salah satu dampak banjir diperparah karena adanya pendangkalan sungai akibat penumpukan sampah, penyempitan aliran sungai, dan tersendatnya drainase oleh sampah.

Menyikapi bencana yang terus berulang, BPBD terus mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di lereng perbukitan, bantaran sungai, dan tebing terjal, untuk meningkatkan kewaspadaan mengingat potensi cuaca ekstrem masih tinggi. Selain itu, edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan ke saluran air menjadi prioritas guna meminimalisir dampak bencana hidrometeorologi di Sukabumi.