:strip_icc()/kly-media-production/medias/5433239/original/059517300_1764839951-Jepretan_Layar_2025-12-01_pukul_16.14.25.png)
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bergerak cepat menambal tanggul laut yang mengalami kebocoran di kawasan pesisir Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, sebagai langkah antisipasi menghadapi puncak banjir rob yang diperkirakan terjadi pada Jumat, 5 Desember 2025, pukul 09.00 WIB. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, menegaskan bahwa penanganan darurat ini dilakukan meskipun tanggung jawab tanggul tersebut berada di bawah kewenangan Pelindo.
Keputusan untuk turun tangan diambil setelah sebuah video yang menunjukkan kondisi kritis tanggul tersebut, di mana air laut tampak lebih tinggi dari permukaan daratan dan merembes ke daratan, viral di media sosial pada Kamis, 4 Desember 2025. Pramono Anung menyatakan, Pemprov DKI Jakarta menyadari sepenuhnya bahwa potensi rob akan sangat tinggi pada hari ini dan besok, sehingga bantuan penambalan kebocoran tanggul menjadi prioritas. Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Utara telah dikerahkan untuk melakukan penanganan darurat di lokasi.
Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta, Ika Agustin Ningrum, menambahkan bahwa meskipun tanggul di kawasan Nizam Zachman ini merupakan kewenangan Pelindo, Pemprov DKI akan tetap membantu penanganan, termasuk perencanaan perbaikan permanen pada tahun 2026.
Selain di Muara Baru, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga memperketat pemantauan di enam titik tanggul pesisir lainnya yang dianggap rawan, yaitu Muara Angke, Bywalk Pluit, Sunda Kelapa, RE Martadinata, dan Marunda Pulo. Dinas SDA DKI Jakarta juga telah menyiagakan 609 unit pompa stasioner dan 627 unit pompa mobile, serta Pasukan Biru, untuk melakukan mitigasi potensi banjir rob di seluruh pesisir ibu kota.
Gubernur Pramono Anung mengingatkan masyarakat bahwa ancaman banjir rob tidak hanya berhenti pada 5 atau 6 Desember 2025. Gelombang rob berikutnya berpotensi muncul pada minggu ketiga Desember 2025, dan puncak curah hujan tinggi diperkirakan terjadi pada Januari 2026. Untuk itu, langkah mitigasi menyeluruh, termasuk modifikasi cuaca, terus disiapkan untuk meminimalkan dampak yang mungkin terjadi di kawasan pesisir.