Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

BPBD Bongkar Data Kerugian Banjir Bandung Raya Terkini

2025-12-05 | 12:14 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-05T05:14:11Z
Ruang Iklan

BPBD Bongkar Data Kerugian Banjir Bandung Raya Terkini

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat telah merinci dampak signifikan dari serangkaian banjir yang melanda wilayah Bandung Raya dalam periode akhir 2024 hingga menjelang akhir 2025. Kejadian banjir terbaru terjadi pada Kamis, 4 Desember 2025 malam, setelah hujan deras mengguyur Kabupaten Bandung, menyebabkan luapan air merendam permukiman di sejumlah kecamatan dataran rendah.

Berdasarkan catatan BPBD Jawa Barat, Kecamatan Bojongsoang menjadi wilayah yang paling parah terdampak pada peristiwa 4-5 Desember 2025, dengan sebanyak 615 rumah terendam. Selain itu, di Kecamatan Banjaran, Desa Kamasan mencatat 80 rumah terendam, sementara di Desa Cangkuang Wetan, Kecamatan Dayeuhkolot, seluruh 47 kepala keluarga terpaksa mengungsi. Di Kecamatan Soreang, Kelurahan Cingcin, enam rumah terendam, dan di Desa Margahurip, Kecamatan Banjaran, satu rumah mengalami kerusakan sedang akibat kuatnya arus banjir. Tinggi muka air berkisar antara 0 hingga 70 sentimeter, dan BPBD memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Pranata Humas BPBD Jawa Barat, Hadi Rahmat, menjelaskan bahwa derasnya hujan menyebabkan luapan air terjadi dengan cepat, khususnya di permukiman dataran rendah, dan tim BPBD Provinsi Jawa Barat telah berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Bandung serta aparat setempat untuk melakukan asesmen dan pendataan di lokasi terdampak, sekaligus menyalurkan bantuan bagi warga. Luapan Sungai Citarum di Bojongsoang juga menyebabkan banjir meluas ke kawasan Cijagra, dengan RW 09 dan RW 10 menjadi wilayah paling terdampak, melibatkan lebih dari 600 kepala keluarga. Akibat banjir ini, lalu lintas dari dan menuju Kabupaten ke Kota Bandung sempat terganggu, bahkan di ruas jalan Dayeuhkolot sama sekali tidak bisa dilalui kendaraan. Fasilitas umum di Dayeuhkolot, seperti masjid dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA), terendam hingga tidak dapat digunakan. Kebutuhan mendesak yang diidentifikasi meliputi pompa air, perahu evakuasi, makanan siap saji, dan bantuan kesehatan.

Sebelumnya, pada Minggu, 30 November 2025, cuaca ekstrem juga memicu kerusakan di Kota Bandung, tepatnya di Desa Sekeloa, Kecamatan Coblong, yang berdampak pada 31 kepala keluarga. Kerugian material tercatat meliputi tiga unit rumah rusak berat, empat unit rumah rusak sedang, dan 24 unit rumah mengalami kerusakan ringan. Merespons potensi ancaman yang masih tinggi, Gubernur Jawa Barat telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Banjir, Banjir Bandang, Cuaca Ekstrem, Gelombang Ekstrem, dan Abrasi.

Banjir yang lebih luas juga melanda Kabupaten Bandung pada Maret 2025, di mana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung mencatat sebanyak 61.676 jiwa terdampak di wilayah Bandung Selatan. Bencana ini meliputi 13 kecamatan dan 33 desa, dengan 10.036 rumah terendam genangan banjir. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bandung, Uka Suska Puji Utama, menyatakan bahwa 2.262 jiwa mengungsi, sementara sisanya memilih bertahan di rumah yang aman. Dampak banjir juga menggenangi 54 fasilitas pendidikan, 21 fasilitas ibadah, satu fasilitas kesehatan, satu fasilitas umum, serta merusak 284 hektare lahan pertanian.

Pada November 2024, Kabupaten Bandung juga dilanda banjir parah yang menyebabkan BPBD Kabupaten Bandung menetapkan status tanggap darurat banjir selama dua minggu, dari 22 November hingga 6 Desember 2024. Banjir tersebut merendam 2.014 rumah dan memengaruhi 12.250 keluarga di empat kecamatan terparah: Bojongsoang, Baleendah, Dayeuhkolot, dan Cilampeni. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bandung, Beny Sonjaya, melaporkan bahwa tinggi air di Kecamatan Dayeuhkolot bahkan mencapai dua meter, memaksa banyak warga mengungsi ke tenda pengungsian, salah satunya di Taman Air Bojongsoang. Bantuan berupa sembako, beras, terpal, dan alat kebersihan telah disalurkan, meskipun stok logistik mulai menipis. BNPB mencatat hingga 25 November 2024, sebanyak 3.976 Kepala Keluarga atau 11.082 jiwa terdampak, dengan 236 Kepala Keluarga atau 707 orang terpaksa mengungsi di 10 titik. Kerugian material meliputi 1.169 unit rumah terendam, tiga unit rumah rusak berat, dua fasilitas ibadah, dan satu gudang rusak, serta satu warga dilaporkan hilang terseret arus.

Selain itu, pada Maret 2025, banjir bandang menerjang dua kecamatan di Kabupaten Bandung Barat, Cipatat dan Ngamprah, menyebabkan 90 rumah rusak parah akibat luapan Sungai Cimeta. Hadi Rahmat dari BPBD Jawa Barat menyebutkan, 20 bangunan rumah di Desa Nyalindung terendam dan tiga fasilitas umum seperti jembatan terdampak, menyebabkan akses penghubung warga terputus sementara. Di Desa Margajaya, Kecamatan Ngamprah, 70 unit rumah juga terendam banjir. BPBD Kabupaten Bandung Barat masih terus melakukan pendataan.

Melihat kondisi ini, BPBD Kabupaten Bandung tengah memproses penetapan status siaga bencana untuk mengantisipasi peningkatan kejadian banjir, longsor, dan pohon tumbang di sejumlah wilayah. Koordinasi dan pemantauan terus dilakukan bersama organisasi perangkat daerah terkait.