Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Gunung Padang: Situs Megalitikum Indonesia yang Ternyata Jauh Lebih Tua dari Piramida Mesir

2025-12-02 | 08:27 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-02T01:27:57Z
Ruang Iklan

Gunung Padang: Situs Megalitikum Indonesia yang Ternyata Jauh Lebih Tua dari Piramida Mesir

Tim peneliti dan pemugaran Situs Megalitikum Gunung Padang di Cianjur telah memastikan bahwa struktur punden berundak di situs tersebut dibangun sejak 6.000 Sebelum Masehi (SM). Temuan ini secara signifikan menempatkan Gunung Padang sebagai salah satu struktur megalitik tertua di dunia, jauh lebih tua dari Piramida Giza di Mesir yang diperkirakan dibangun sekitar 2580-2560 SM.

Ketua Tim Peneliti dan Pemugaran Situs Megalitikum Gunung Padang, Ali Akbar, menjelaskan bahwa kesimpulan usia situs ini didapatkan setelah menganalisis sejumlah sampel dari berbagai titik ekskavasi. Sampel yang diteliti dan diuji, termasuk kandungan karbon, diambil dari teras kelima pada kedalaman empat meter di bawah permukaan situs. Pengujian karbon merupakan metode standar dalam penentuan usia artefak dan struktur purbakala, yang hasilnya menunjukkan angka usia yang sangat signifikan ini.

Selain penentuan usia, tim juga menemukan struktur fondasi unik berupa hamparan batu berbentuk bulat dan persegi pada kedalaman empat meter. Susunan batu yang rapi ini mengindikasikan bahwa Gunung Padang dibangun secara bertahap dalam beberapa periode. Para peneliti menyimpulkan bahwa bebatuan yang tersusun rapi tersebut merupakan struktur fondasi, yang menegaskan bahwa pembangunan situs ini dilakukan secara bertahap hingga menjadi bentuk yang terlihat saat ini.

Penemuan baru ini tidak hanya mengubah pemahaman tentang peradaban kuno di Nusantara, tetapi juga berpotensi menantang teori-teori arkeologi global mengenai asal-usul peradaban. Usia Situs Gunung Padang yang mencapai 8.000 tahun telah menarik perhatian para arkeolog, peneliti, dan pecinta sejarah di seluruh dunia.

Setelah berhasil memastikan usia situs, penelitian akan dilanjutkan dengan proses pemugaran awal. Tahap ini mencakup perbaikan sejumlah bebatuan yang bergeser atau rusak akibat faktor alam, dengan pemugaran skala besar direncanakan pada awal tahun 2026. Sebanyak 100 ahli dari berbagai bidang keilmuan, termasuk arkeologi, geologi, geofisika, dan biologi, terlibat dalam penelitian dan pemugaran lanjutan ini. Keterlibatan warga lokal di sekitar situs juga menjadi bagian penting dari proses tersebut.