:strip_icc()/kly-media-production/medias/5451495/original/061559800_1766303509-Picsart_25-12-21_15-41-32-741__1_.jpg)
Gunung Ibu di Halmahera Barat, Maluku Utara, kembali erupsi pada Jumat pagi, memuntahkan kolom abu vulkanik setinggi lebih dari 4.000 meter di atas puncak, mendorong otoritas untuk menegaskan kembali zona aman yang krusial bagi keselamatan warga dan pengunjung. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan bahwa erupsi eksplosif ini terjadi pada pukul 07.46 WIT dengan intensitas yang signifikan, memperpanjang periode aktivitas vulkanik tinggi yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Status Gunung Ibu tetap berada pada Level IV (Awas), tingkat peringatan tertinggi, menandakan potensi bahaya yang mengancam.
Berdasarkan rekomendasi PVMBG, masyarakat dan pengunjung wajib mematuhi jarak aman minimum 7 kilometer dari kawah aktif Gunung Ibu. Zona berbahaya ini diperluas menjadi 7 kilometer dari pusat kawah karena potensi lontaran batuan pijar dan abu vulkanik pekat yang dapat mencapai area tersebut. Selain itu, sektor utara Gunung Ibu memiliki potensi ancaman yang lebih besar, sehingga jarak aman di sektor tersebut diperketat hingga 7 kilometer. Jarak aman ini bukan hanya berlaku untuk wisatawan, tetapi juga untuk penduduk yang bermukim di desa-desa terdekat.
Aktivitas vulkanik Gunung Ibu telah menunjukkan peningkatan sejak awal Mei 2024, memaksa ribuan warga dari desa-desa terdekat, termasuk Gam Ici dan Goin, untuk dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Kepala PVMBG, Hendra Gunawan, menyatakan bahwa erupsi saat ini adalah bagian dari pola aktivitas eksplosif dan efusif yang persisten, ditandai dengan gempa guguran, hembusan, harmonik, vulkanik dangkal, dan vulkanik dalam yang terus-menerus terekam. Data PVMBG menunjukkan bahwa Gunung Ibu mengalami letusan efusif (aliran lava) pada 9 Mei 2024, yang mengindikasikan tekanan magma yang signifikan dari dalam perut bumi.
Kondisi ini memiliki implikasi serius terhadap kehidupan sosial-ekonomi di sekitar Gunung Ibu. Sektor pertanian dan perkebunan yang menjadi tulang punggung perekonomian lokal, seperti perkebunan cengkeh dan pala, sangat rentan terhadap dampak hujan abu. Abu vulkanik yang terus-menerus dapat merusak tanaman, mengurangi hasil panen, dan mengganggu kualitas udara, berpotensi menimbulkan masalah kesehatan pernapasan bagi warga yang terpapar. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Halmahera Barat secara aktif memonitor kondisi dan menyalurkan bantuan logistik serta masker kepada masyarakat terdampak untuk memitigasi risiko kesehatan.
Secara historis, Gunung Ibu dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia, dengan frekuensi letusan yang tinggi dan karakteristik erupsi yang bervariasi. Catatan sejarah menunjukkan serangkaian erupsi besar sejak tahun 1998, dengan aktivitas intensitas menengah hingga tinggi yang seringkali memuntahkan abu vulkanik tinggi. Sejak 2022, Gunung Ibu telah menunjukkan peningkatan aktivitas seismik yang signifikan, menggarisbawahi sifat dinamis gunung berapi ini dan pentingnya pemantauan berkelanjutan.
Pemerintah daerah bersama dengan PVMBG dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus bekerja sama dalam upaya mitigasi dan kesiapsiagaan bencana. Edukasi mengenai jalur evakuasi, perlindungan diri dari abu vulkanik, dan pentingnya mematuhi instruksi resmi dari pihak berwenang menjadi fokus utama. Kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan erupsi yang lebih besar tetap menjadi prioritas utama demi melindungi nyawa dan meminimalkan dampak terhadap masyarakat di sekitar Gunung Ibu.