:strip_icc()/kly-media-production/medias/5451302/original/041529800_1766270075-Banjir_bandang_terjang_kawasan_wisata_air_panas_Guci_Tegal.png)
Banjir bandang melanda kawasan wisata air panas Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, pada Sabtu, 20 Desember 2025, sekitar pukul 16.30 WIB, menyebabkan kerusakan signifikan terutama pada ikon utamanya, Pancuran 13. Hujan deras berintensitas tinggi yang berlangsung lama memicu luapan Sungai Gung, membawa material lumpur, pasir, dan bebatuan yang menimbun fasilitas pemandian, menghanyutkan 13 jembatan, serta merusak jalur pipa air panas yang vital bagi operasional penginapan di sekitarnya. Meskipun tidak ada korban jiwa, insiden ini memaksa penutupan sementara Pancuran 13 dan Pancuran 5 demi keselamatan pengunjung dan upaya pembersihan.
Pascabanjir, kolam air panas Pancuran 13 hampir seluruhnya tertutup material endapan hingga tampak menghilang dari permukaan, sementara Pancuran 5 tertimpa pohon dan Pemandian Barokah tergenang lumpur. Kerusakan ini bukan sekadar insiden tunggal, melainkan juga menyoroti kerentanan ekologis di hulu Sungai Gung. Ketua Aliansi Pemerhati Lereng Gunung Kabupaten Tegal, Abdul Khayyi, pada Senin, 22 Desember 2025, menyatakan bahwa banjir bandang dipicu oleh kondisi hutan di Igir Cowet, lereng Gunung Slamet, yang telah gundul akibat alih fungsi lahan menjadi pertanian kentang dan sayuran, seluas sekitar 49 hektare di wilayah Tegal. Degradasi lingkungan ini mengakibatkan hilangnya vegetasi hutan yang seharusnya berfungsi menahan air, sehingga saat hujan deras, air langsung meluap ke sungai. Khayyi telah berulang kali mengingatkan pemangku kebijakan untuk melakukan reboisasi dan edukasi masyarakat guna mencegah kerusakan hutan lebih lanjut.
Pemerintah Kabupaten Tegal, melalui Bupati Ischak Maulana Rohman, telah mengambil langkah cepat dengan memastikan kawasan wisata Guci secara umum aman dan tetap terbuka untuk umum, kecuali Pancuran 13 dan 5 yang masih dalam tahap pembersihan dan perbaikan. Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, PMI, TNI, Polri, pengelola wisata, dan relawan segera dikerahkan untuk membersihkan material sisa banjir. Bupati Ischak menargetkan penyelesaian pembersihan Pancuran 13 dalam waktu sekitar satu minggu dan mendesak penambahan alat berat untuk mempercepat proses normalisasi. Perbaikan jalur pipa air panas yang terputus juga menjadi prioritas vital agar pasokan air panas ke puluhan vila dan hotel dapat kembali normal.
Meskipun demikian, insiden banjir ini berdampak pada tingkat kunjungan wisatawan. Bupati Ischak Maulana Rohman mencatat penurunan kunjungan wisatawan hingga 60 persen pasca-banjir. Penurunan ini menambah tantangan bagi sektor pariwisata Guci yang sebelumnya telah menghadapi fluktuasi, termasuk penurunan kunjungan saat libur Lebaran 2024 dan Natal 2024, sebagian karena kenaikan tarif masuk. Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Tegal, Akhmad Uwes Qoroni, sebelumnya menyatakan bahwa kunjungan Guci saat Lebaran 2024 mencapai 89.968 orang, menempatkan Guci di peringkat kedelapan destinasi wisata teramai di Jawa Tengah, meskipun terjadi penurunan dibandingkan tahun 2023.
Ke depan, mitigasi bencana menjadi krusial. Kepala Disporapar Jawa Tengah, Masrofi, menekankan pentingnya pengetatan mitigasi bencana di destinasi wisata, termasuk koordinasi dengan BPBD untuk memetakan kerawanan, terutama mengingat potensi hujan masih tinggi. Analisis mendalam tentang tata kelola lahan di hulu sungai dan implementasi kebijakan reboisasi yang berkelanjutan akan menentukan daya tahan Guci terhadap ancaman bencana hidrometeorologi di masa mendatang. Pemulihan infrastruktur fisik harus dibarengi dengan pemulihan ekosistem hulu untuk memastikan keberlanjutan daya tarik wisata ini dan melindungi masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pariwisata Guci. Harapan warga setempat, terutama para pedagang dan pengelola penginapan, kini tertumpu pada kecepatan dan efektivitas upaya pemulihan, serta komitmen jangka panjang terhadap pelestarian lingkungan.