:strip_icc()/kly-media-production/medias/5451214/original/080194300_1766242824-banjir_bandang_guci_tegal.jpg)
Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman menegaskan objek wisata Guci secara umum aman dan layak dikunjungi pascabanjir bandang yang melanda sebagian kawasan tersebut pada Sabtu, 20 Desember 2025. Penegasan ini muncul di tengah upaya pemulihan infrastruktur yang rusak dan kekhawatiran wisatawan menjelang puncak liburan akhir tahun.
Banjir bandang, yang dipicu intensitas hujan tinggi di lereng Gunung Slamet, menyebabkan Sungai Gung meluap dan menerjang area pemandian air panas Pancuran 13 dan Pancuran 5. Material lumpur, pasir, dan bebatuan menutupi kolam, serta merusak jaringan pipa air panas dan jembatan kecil di area Pancuran 13. Meskipun tidak ada laporan korban jiwa, dampak kerusakan infrastruktur cukup signifikan.
Bupati Ischak Maulana Rohman, setelah meninjau langsung lokasi, menyatakan bahwa kerusakan hanya terjadi secara lokal di bantaran Sungai Gung dan dua pancuran tersebut, sementara destinasi lain seperti GuciKu, Gulala, Guci Forest, Joglo Ageng, dan Asafana tetap beroperasi normal. Ia menjelaskan bahwa perbaikan Pancuran 13 ditargetkan selesai dalam waktu tujuh hari sejak 21 Desember 2025, namun pada 23 Desember 2025, ia berharap proses tersebut dapat dipercepat dengan penambahan alat berat, estimasi tiga hingga empat hari lagi untuk pemulihan dan pembersihan. "Kami ke sini hari Minggu kemarin, dan malam ini kami melihat langsung progresnya sudah lebih baik. Tentu masih butuh waktu sekitar tiga sampai empat hari lagi untuk proses pemulihan dan pembersihannya," ujar Bupati pada 23 Desember 2025.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mendampingi pemerintah daerah dalam penanganan pascabencana, mengerahkan alat berat untuk membersihkan material dan memonitor aliran Sungai Gung guna mengantisipasi banjir susulan. Tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, serta relawan juga bergotong royong melakukan pembersihan dan perbaikan infrastruktur yang rusak.
Namun, kekhawatiran masyarakat terhadap keamanan Guci terlihat dari penurunan tingkat kunjungan wisatawan yang mencapai 60 persen pascabanjir. Penurunan ini menambah tantangan bagi sektor pariwisata Guci yang sebelumnya sudah mencatat penurunan kunjungan saat libur Lebaran 2025, dengan 57.000 wisatawan dibandingkan 68.000 pada tahun sebelumnya, sebagian besar disebabkan cuaca ekstrem dan kondisi ekonomi. Pada libur Lebaran 2024, Guci sempat menduduki peringkat kedelapan destinasi wisata paling banyak dikunjungi di Jawa Tengah dengan 89.968 pengunjung.
Bupati Ischak juga menyoroti dugaan penyebab banjir bandang yang dipicu oleh berkurangnya tutupan hutan di lereng Gunung Slamet akibat alih fungsi lahan menjadi pertanian sayuran. Pemerintah berencana melakukan penghijauan ulang pada lahan kritis dan memperkuat pengawasan lintas sektor bersama TNI-Polri, Perhutani, dan BKSDA Jawa Tengah untuk mencegah kerusakan lingkungan lebih lanjut. Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Provinsi Jawa Tengah, Masrofi, juga menyatakan pihaknya telah memperketat mitigasi bencana di destinasi wisata menjelang libur Natal dan Tahun Baru 2025-2026, berkoordinasi dengan BPBD untuk memetakan kerawanan.
Pemulihan dan mitigasi bencana jangka panjang menjadi krusial untuk memastikan keberlanjutan sektor pariwisata Guci. Penekanan pada restorasi ekosistem hulu dan implementasi rencana tata ruang yang ketat akan menentukan ketahanan Guci di masa depan. Meskipun pejabat memastikan keamanan, pemantauan berkelanjutan terhadap kondisi geologis dan hidrologis, serta kesiapsiagaan pengunjung dan pengelola, tetap menjadi esensi dalam pengelolaan destinasi wisata di daerah rawan bencana seperti Guci.