Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Gerakan Tanah Sukabumi: Dapur Roboh Saat Warga Tidur, Trauma Mendalam di Gempol

2025-12-27 | 04:51 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-26T21:51:16Z
Ruang Iklan

Gerakan Tanah Sukabumi: Dapur Roboh Saat Warga Tidur, Trauma Mendalam di Gempol

Warga Kampung Gempol, Desa Sukamulya, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, Jawa Barat, menghadapi trauma mendalam setelah rumah mereka ambruk akibat tanah bergerak, yang puncaknya terjadi pada dini hari, memaksa mereka tidur di dapur yang kemudian ikut runtuh. Insiden yang dilaporkan terjadi pada akhir tahun 2023 dan berlanjut hingga awal 2024 ini, menyebabkan puluhan rumah rusak parah dan retak-retak akibat pergeseran tanah yang terus-menerus. Bencana ini telah memaksa sedikitnya 50 kepala keluarga atau 198 jiwa mengungsi, meninggalkan properti yang tidak lagi aman untuk dihuni.

Peristiwa yang menimpa warga Gempol bukanlah kejadian terisolasi di Sukabumi, wilayah yang secara geologis memang rentan terhadap pergerakan tanah dan longsor. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jawa Barat merupakan salah satu provinsi dengan tingkat kerawanan bencana hidrometeorologi tertinggi di Indonesia. Curah hujan ekstrem dalam beberapa waktu terakhir diduga kuat menjadi pemicu utama pergerakan tanah di Gempol, di mana air hujan meresap ke dalam lapisan tanah, meningkatkan tekanan pori, dan mengurangi kekuatan geser tanah. Para ahli geologi seringkali menyoroti komposisi tanah lempung yang dominan di daerah perbukitan dan lereng sebagai faktor pemicu, karena tanah lempung memiliki daya serap air yang tinggi dan mudah jenuh. Kondisi topografi yang curam dan kondisi geologi batuan yang mudah lapuk memperparah kerentanan wilayah ini terhadap tanah bergerak.

Dampak psikologis terhadap warga terdampak sangat signifikan. Kakek Saca, salah satu korban, menggambarkan bagaimana tidur di dapur menjadi pilihan terakhir setelah bagian rumah lainnya retak parah, namun dapur tersebut akhirnya juga ambruk. Pengalaman traumatis seperti ini dapat memicu kecemasan, depresi, dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD), terutama pada anak-anak yang menyaksikan kehancuran rumah dan kehilangan rasa aman. Studi kasus serupa di daerah bencana lain menunjukkan bahwa dukungan psikososial jangka panjang sangat penting untuk membantu pemulihan komunitas.

Respons pemerintah dan lembaga terkait meliputi penyediaan posko pengungsian, dapur umum, serta bantuan logistik bagi korban. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi bersama instansi terkait telah melakukan peninjauan lokasi dan pendataan kerusakan untuk menentukan langkah mitigasi selanjutnya. Kepala Pelaksana BPBD Kota Sukabumi, Imran Wardhani, menyatakan fokus utama adalah memastikan keselamatan warga dan memenuhi kebutuhan dasar pengungsi. Namun, tantangan jangka panjang tetap pada relokasi permanen bagi warga yang rumahnya tidak lagi bisa diperbaiki serta edukasi tentang mitigasi bencana bagi masyarakat yang tinggal di zona rawan. PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) secara rutin memberikan rekomendasi mengenai daerah-daerah rawan dan potensi pergerakan tanah, yang krusial untuk dijadikan dasar perencanaan tata ruang berkelanjutan. Membangun kembali bukan hanya tentang fisik, melainkan juga memulihkan kepercayaan dan ketahanan komunitas menghadapi ancaman bencana berulang.