:strip_icc()/kly-media-production/medias/5458366/original/038352700_1767077924-IMG_20251230_123004_818.jpg)
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi secara resmi melarang perayaan kembang api dan kegiatan hura-hura pada malam pergantian Tahun Baru 2026 di seluruh wilayah provinsi, mengarahkan masyarakat untuk menyambutnya dengan kesederhanaan, doa bersama, dan refleksi diri. Keputusan ini, yang diumumkan pada akhir Desember 2025, bertujuan untuk menunjukkan solidaritas terhadap korban bencana alam di berbagai daerah di Sumatera serta mengedepankan nilai-nilai keprihatinan dan evaluasi diri di tengah potensi cuaca ekstrem di Jawa Barat.
Langkah tersebut mencerminkan konsistensi Dedi Mulyadi dengan citra publiknya yang dikenal mengedepankan gaya hidup sederhana dan anti-konsumerisme, sebuah filosofi yang telah ia usung jauh sebelum menjabat gubernur. Sejak awal kariernya di dunia politik, ia kerap tampil dengan pakaian tradisional Sunda dan dikenal dekat dengan masyarakat tanpa segan makan di warung sederhana atau tidur di rumah warga. Dedi Mulyadi sering menekankan bahwa kekayaan sejati terletak pada rasa cukup dan kemampuan berbagi, bukan pada harta atau penampilan luar yang berlebihan. Ia juga dikenal kritis terhadap gaya hidup hedonis para pejabat yang dinilai dapat menjauhkan pemimpin dari realitas rakyat kecil.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan mengadakan doa bersama bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di Masjid Gedung Sate, Bandung, sebagai bagian dari perayaan malam tahun baru yang lebih khidmat. Dedi Mulyadi mengajak seluruh warga Jawa Barat untuk mengikuti imbauan ini, menjadikan momen pergantian tahun sebagai waktu untuk berkumpul bersama keluarga, makan bersama, atau menggelar doa sebagai bentuk rasa syukur dan refleksi. Imbauan ini juga sejalan dengan rekomendasi dari Kepolisian Daerah Jawa Barat, yang menekankan pentingnya menghindari euforia berlebihan dan potensi gangguan keamanan atau lingkungan yang diakibatkan oleh pesta kembang api.
Secara historis, tradisi perayaan tahun baru di Jawa Barat memang relatif tidak menonjol dengan euforia besar dibandingkan daerah lain, sehingga kebijakan ini tidak dianggap sebagai perubahan drastis melainkan penekanan pada nilai-nilai yang sudah ada. Selain faktor sosial dan budaya, imbauan ini juga mempertimbangkan kondisi cuaca ekstrem yang diprediksi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, yang memprediksi hujan sedang hingga lebat di sejumlah wilayah Jawa Barat pada periode 31 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026.
Implikasi jangka panjang dari pendekatan "sederhana ala Dedi Mulyadi" ini diharapkan dapat mendorong perubahan paradigma di kalangan masyarakat Jawa Barat, menggeser fokus dari konsumsi berlebihan menuju refleksi personal dan kepedulian sosial. Ini juga menjadi penegasan terhadap gaya kepemimpinan yang berupaya menyatukan nilai-nilai tradisional Sunda dengan tuntutan modernitas, di mana pemimpin memberikan teladan melalui kesahajaan. Dengan mengarahkan energi perayaan ke arah spiritual dan kebersamaan keluarga, kebijakan ini berpotensi mengurangi dampak negatif lingkungan dari pesta kembang api, meminimalkan kerumunan yang berisiko, serta menumbuhkan empati kolektif di tengah tantangan bencana dan ekonomi. Ini bukan hanya tentang perayaan Tahun Baru, tetapi juga tentang membentuk karakter masyarakat yang lebih bersyukur dan bertanggung jawab.