:strip_icc()/kly-media-production/medias/5434969/original/030263100_1764997967-b2f9c993-36a1-4ba6-8649-7d85fae68d5c.jpeg)
Tim medis gabungan di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, terus bekerja optimal menangani keluhan kesehatan warga pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut. Keluhan terbanyak yang ditangani hingga saat ini didominasi oleh batuk, flu, gatal-gatal, mual, dan diare.
Pelayanan kesehatan bagi warga terdampak dipastikan berjalan optimal, dengan pemerintah daerah dan tim medis gabungan menjamin ketersediaan obat-obatan, tenaga kesehatan, serta fasilitas layanan darurat yang memadai. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah, Lisnawati Panjaitan, menyatakan bahwa seluruh warga terdampak telah mendapatkan layanan kesehatan sejak hari kedua setelah bencana. Semua tenaga kesehatan dari dinas maupun RSUD Pandan langsung diterjunkan ke titik-titik lokasi terdampak.
Hingga tanggal 5 Desember 2025, sekitar 5.700 warga telah mendapatkan pelayanan kesehatan. Sebanyak 28 orang dirawat inap di RSUD Pandan, sementara 67 pasien rawat jalan telah diizinkan pulang setelah mendapatkan perawatan. Total 372 tenaga medis, termasuk dokter, perawat, tenaga kesehatan puskesmas, serta personel kesehatan dari TNI dan Polri, telah dikerahkan. Mereka bertugas di 63 posko kesehatan aktif yang didirikan untuk menjangkau masyarakat.
Meskipun beberapa fasilitas umum puskesmas seperti di Kolang, Sorkam, Tukka, dan Barus Utara mengalami kerusakan berat akibat banjir bandang, 21 puskesmas lainnya dipastikan berfungsi normal untuk melayani masyarakat. Stok obat-obatan untuk masyarakat pascabencana dipastikan aman dan terkendali, didukung penuh oleh Kementerian Kesehatan, meskipun gudang farmasi Dinas Kesehatan Tapteng sempat terdampak banjir. Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) dan vaksin juga tersedia karena warga rentan mengalami infeksi pascabanjir. Selain pengobatan, Dinas Kesehatan juga memberikan bantuan makanan tambahan, vitamin untuk ibu hamil, susu untuk balita, dan popok.
Bencana banjir bandang dan tanah longsor ini diketahui mulai melanda Tapanuli Tengah sekitar tanggal 26 November 2025, menyebabkan 20 kecamatan terdampak dan ribuan kepala keluarga terisolasi. Data awal pada 28 November 2025 mencatat 34 korban meninggal dunia dan 33 orang hilang, namun laporan terbaru menyebutkan 14 jenazah masuk ke RSUD Pandan, dengan 11 di antaranya telah teridentifikasi. Penyakit pascabanjir seperti diare dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) memang umum terjadi akibat kondisi lingkungan yang tidak higienis dan kontaminasi air.