Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Drama Penyelamatan Nenek 70 Tahun dari Sumur Bergas Mematikan

2025-12-24 | 00:29 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-23T17:29:36Z
Ruang Iklan

Drama Penyelamatan Nenek 70 Tahun dari Sumur Bergas Mematikan

Nenek Juansih, 70 tahun, ditemukan meninggal dunia setelah terperosok ke dalam sumur tua yang diduga mengandung gas beracun di Kampung Lembursawah, Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon, Sukabumi, Jawa Barat, pada Selasa, 23 Desember 2025. Insiden tragis ini bermula sekitar pukul 15.10 WIB ketika Juansih sedang menyapu di halaman belakang rumahnya dan tanpa disadari menginjak penutup sumur yang telah lapuk serta tertutup rumput, menyebabkannya jatuh ke dalam sumur sedalam tiga meter tersebut. Proses evakuasi berlangsung dramatis, melibatkan tim Pemadam Kebakaran (Damkar) yang harus berjibaku dengan ancaman gas berbahaya.

Komandan Pos (Danpos) Damkar Jampangkulon, Lelan Priatman, menjelaskan bahwa timnya segera merespons laporan yang diterima pada pukul 15.30 WIB. Namun, setibanya di lokasi, petugas menghadapi kendala serius akibat dugaan keberadaan gas beracun di dalam sumur, yang mengancam keselamatan personel penyelamat. Untuk mengatasi bahaya tersebut, petugas Damkar terlebih dahulu melakukan teknik pengipasan atau ventilasi guna mengurai konsentrasi gas berbahaya sebelum memulai upaya pengangkatan. Lima personel Damkar—Lelan Priatman, Khairul Anam, Yoga Pebrian, Aldi Hidayat, dan Hadin Gustiana—bekerja keras dalam operasi penyelamatan yang berlangsung kurang lebih 50 menit. Meskipun evakuasi berhasil dilakukan pada pukul 16.20 WIB dengan bantuan pengamanan dari Polsek Jampangkulon dan pemerintah desa setempat, Juansih ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa saat berhasil diangkat dari sumur.

Peristiwa ini menambah daftar panjang insiden mematikan yang berkaitan dengan sumur tua atau tidak terawat di Jawa Barat. Sebelumnya, pada 9 Oktober 2025, seorang pria bernama Abidin Abdurohim (40) tewas di dalam sumur sedalam 15 meter di Perumahan Alam Layung Indah, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, juga karena diduga menghirup gas beracun saat memperbaiki pompa air. Kejadian serupa yang jauh lebih fatal terjadi di Cianjur pada Maret 2024, di mana empat warga tewas setelah menghirup gas beracun di dalam sumur sedalam 15 meter di Kampung Panahegan, Desa Gasol, Kecamatan Cugenang. Para korban, termasuk mereka yang berusaha menolong, ikut terjebak dan meninggal dunia karena kondisi sumur yang mengandung gas berbahaya dan sulitnya akses evakuasi. Berbagai insiden ini menyoroti risiko fatal dari sumur yang tidak ditutup atau ditandai dengan baik, terutama yang berpotensi mengandung gas seperti metana atau karbon dioksida yang tidak berbau dan tidak berwarna, namun mematikan. Kurangnya kesadaran masyarakat tentang bahaya gas beracun di ruang terbatas seringkali menjadi faktor pemicu tragedi.

Insiden berulang ini menggarisbawahi urgensi bagi pemerintah daerah dan komunitas untuk meningkatkan edukasi publik mengenai bahaya sumur tua atau tidak terpakai, serta pentingnya penutupan dan penandaan yang aman. Petugas Damkar Jampangkulon sendiri mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap keberadaan lubang atau sumur tua guna mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang. Tanpa langkah-langkah pencegahan yang komprehensif, termasuk inspeksi rutin dan standardisasi keamanan, ancaman kematian akibat terperosok ke dalam sumur berisi gas beracun akan terus membayangi masyarakat di wilayah-wilayah dengan banyak infrastruktur air mandiri seperti Jawa Barat.