
Puluhan warga yang sempat terjebak di tengah hutan akibat banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, kini telah ditemukan selamat. Sebanyak sekitar 50 warga tersebut dilaporkan berhasil mengevakuasi diri secara mandiri setelah terjebak sejak Selasa, 25 November 2025, di Desa Huta Bolon, Kecamatan Tukka. Mereka berupaya menyelamatkan diri dengan menyeberangi sungai menggunakan tali dan bambu.
Salah seorang anggota keluarga korban, Rosmawati Zebua (30), menjelaskan bahwa evakuasi dilakukan tanpa bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) maupun Basarnas. Adik Rosmawati yang berusia 25 tahun memberanikan diri berenang menyeberangi sungai yang arusnya masih tinggi pada Kamis, 27 November 2025, untuk mencari bantuan setelah melihat beberapa warga mulai kelaparan. Sesampainya di seberang sungai, ia kemudian berlari mencari pertolongan agar puluhan warga lainnya dapat diselamatkan.
Selama beberapa hari terjebak di hutan, para warga bertahan hidup dengan memakan nangka muda yang dipanggang karena tidak ada pasokan makanan yang bisa dibawa saat kejadian mendadak. Rosmawati menambahkan, ada satu bayi berusia tiga bulan yang turut serta dalam evakuasi tersebut dan sempat berada dalam kondisi kritis akibat kedinginan serta kurangnya nutrisi, namun puji syukur kini telah selamat. Komunikasi dengan pihak keluarga baru dapat tersambung pada Minggu, 30 November 2025, setelah adik Rosmawati mencari jaringan hingga ke Kecamatan Pandan karena putusnya jaringan telekomunikasi di wilayah terdampak.
Banjir dan longsor yang melanda Tapanuli Tengah ini merupakan bagian dari bencana hidrometeorologi yang lebih luas di Pantai Barat Sumatera Utara, yang turut berdampak pada tujuh kabupaten/kota lainnya seperti Sibolga, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Nias Selatan, dan Padang Lawas. Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, sebelumnya melaporkan bahwa bencana ini telah menyebabkan 34 orang meninggal dunia dan 33 orang hilang per Jumat, 28 November 2025, dengan ribuan kepala keluarga masih terisolasi di 20 kecamatan terdampak. Pihak berwenang juga tengah mengkaji dugaan pembalakan liar menyusul banyaknya gelondongan kayu yang ikut terbawa arus banjir.