:strip_icc()/kly-media-production/medias/5433830/original/062587600_1764903535-Banjir_Sukabumi.jpg)
Hujan deras yang mengguyur Kota Sukabumi dalam beberapa hari terakhir telah memicu serangkaian bencana hidrometeorologi, dengan setidaknya 20 titik di wilayah tersebut diterjang banjir dan longsor. Permasalahan drainase yang buruk dan tersumbat sampah diidentifikasi sebagai pemicu utama, memperparah dampak curah hujan ekstrem.
Menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi, Joseph Sabarudin, pada Kamis, 4 Desember 2025, bencana melanda 20 titik berbeda di kota ini. Dari jumlah tersebut, 15 titik mengalami banjir limpasan, satu titik dilanda tanah longsor, dua titik terjadi pohon tumbang, satu titik trotoar ambles, dan satu titik saluran irigasi jebol. Bencana ini tersebar di beberapa kecamatan, termasuk Warudoyong, Citamiang, Lembursitu, Baros, dan Cibeureum.
Peristiwa yang terjadi pada Kamis dan Jumat, 4-5 Desember 2025, menyebabkan sejumlah kerusakan. Di Gang H. Kholil, Kelurahan Selabatu, Kecamatan Cikole, sebelas rumah terendam banjir limpasan dengan ketinggian yang belum pernah terjadi sebelumnya. Longsor juga dilaporkan di RW 02 Kelurahan Dayeuhluhur, Kecamatan Warudoyong. Selain itu, trotoar di Jalan Taman Bahagia, Kelurahan Benteng, ambles, dan saluran irigasi jebol di RT 03 RW 14 Kecamatan Lembursitu, berdampak pada permukiman di RW 17 dan RW 19. Bendungan Sungai Cipelang di Warungkalapa RW 01 juga jebol.
Joseph Sabarudin menjelaskan bahwa banjir dipicu oleh kombinasi cuaca ekstrem dengan intensitas curah hujan yang sangat tinggi, serta kondisi infrastruktur yang tidak berfungsi optimal. Banyak saluran drainase tidak berfungsi sebagaimana mestinya karena tersumbat sampah, mengalami alih fungsi, penyempitan, dan pendangkalan, sehingga tidak mampu menampung debit air saat hujan deras. Material sampah yang menumpuk di aliran air secara signifikan mengurangi kapasitas saluran.
Pengamat lingkungan Sukabumi, Ari Igo Amos, turut menyoroti bahwa bencana ini bukan hanya akibat drainase buruk, tetapi juga rusaknya jaringan resapan air bawah tanah serta ketidakpatuhan masyarakat dalam menjaga lingkungan. Ia menggarisbawahi perlunya tata lingkungan berkelanjutan dan kajian komprehensif oleh pemerintah untuk mencari akar masalah dan solusi jangka panjang.
Menanggapi kondisi darurat ini, BPBD Kota Sukabumi bersama tim gabungan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUTR), PLN, dan relawan segera melakukan penanganan cepat di lokasi terdampak. Wakil Wali Kota Sukabumi juga meninjau lokasi-lokasi terdampak, menekankan pentingnya koordinasi intensif antarwilayah, pelaporan berkala, dan kesiapsiagaan setiap kelurahan, termasuk penyediaan dana cadangan bencana. Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan sebagai upaya menjaga lingkungan. Hingga saat ini, upaya penanganan masih terus berjalan, dengan fokus pada pemantauan, evakuasi, dan koordinasi lintas sektor untuk memastikan situasi kembali aman.