:strip_icc()/kly-media-production/medias/5435467/original/029827100_1765068324-Sungai_di_Sibolga.jpg)
Longsor parah yang menerjang kawasan perbukitan di bagian hulu Sungai Aek Godang, Sibolga Julu, Sumatera Utara, pada akhir pekan lalu telah menyebabkan pendangkalan signifikan pada aliran sungai tersebut. Peristiwa ini terjadi setelah intensitas hujan tinggi mengguyur wilayah itu pada 25-27 November 2025, meningkatkan debit air dan membawa material longsor berupa pasir, batu, dan batang kayu ke hilir sungai.
Berdasarkan pantauan yang dilakukan pada Sabtu, 6 Desember 2025, permukaan air Sungai Aek Godang terlihat surut drastis, hanya setinggi betis orang dewasa. Material longsor yang menumpuk di dasar sungai telah mengubah bentuk alur alirannya, membuat sempadan sungai tampak lebih lebar, dan bagian tengah sungai kini menyerupai daratan.
Sonia, seorang warga Sibolga Julu, membenarkan kondisi memprihatinkan ini. Ia menjelaskan bahwa sebelumnya aliran sungai dalam, namun kini "sungai sudah menyerupai daratan dan bisa diseberangi warga dengan jalan kaki". Penumpukan material ini tidak hanya menyebabkan pendangkalan, tetapi juga meningkatkan risiko air mudah meluap saat hujan kembali turun.
Kondisi ini sempat memicu banjir yang merendam jalan raya dan menggenangi permukiman di beberapa titik sekitar Sungai Aek Godang, khususnya di jalur Sibolga–Tapanuli Tengah. Akibatnya, sekitar 700 warga sempat mengungsi ke Aula Gereja HKBP Sibolga Julu di Kelurahan Angin Nauli karena kekhawatiran akan banjir susulan dan longsor lanjutan dari perbukitan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sibolga mencatat jumlah pengungsi tersebut selama masa darurat. Namun, pada hari ke-12 pascabencana, sebagian besar warga sudah mulai kembali ke rumah masing-masing setelah hujan mereda dan debit air berangsur normal. Mereka kini bergotong royong membersihkan rumah. Warga berharap normalisasi aliran sungai dapat segera dilakukan untuk mencegah terulangnya bencana serupa di masa mendatang.