:strip_icc()/kly-media-production/medias/3794892/original/036183200_1640347824-WhatsApp_Image_2021-12-24_at_19.21.25.jpeg)
Tim Gegana Satuan Brigade Mobil (Brimob) Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara (Sultra) telah melakukan sterilisasi terhadap sekitar 58 gereja di wilayah tersebut pada menjelang Malam Natal 2025, sebagai bagian dari rangkaian Operasi Lilin Anoa 2025 yang bertujuan menjamin keamanan perayaan ibadah. Langkah preemptif ini merupakan respons atas potensi ancaman keamanan yang kerap meningkat selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru), sekaligus memastikan kenyamanan dan kekhusyukan umat Kristiani dalam menjalankan ibadahnya.
Operasi Lilin Anoa 2025, yang berlangsung dari 20 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026, mengerahkan total 3.078 personel gabungan dari kepolisian, TNI, dan instansi terkait untuk pengamanan di seluruh Sultra. Personel ditempatkan di 77 pos pengamanan dan pos pelayanan yang tersebar di titik-titik strategis, termasuk rumah ibadah, pusat keramaian, jalur transportasi, dan objek wisata. Kapolda Sultra Irjen Pol Didik Agung Widjanarko menekankan pentingnya kesiapsiagaan maksimal. “Pengamanan Natal dan Tahun Baru bukan hanya soal kehadiran polisi, tetapi bagaimana masyarakat benar-benar merasa aman dan dilayani dengan baik,” ujarnya pada Minggu (21/12/2025). Pengecekan kesiapan personel dan sarana prasarana, termasuk sterilisasi gereja, menjadi fokus utama untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.
Sterilisasi gereja oleh unit Jibom (Penjinak Bom) dan K9 Brimob telah menjadi prosedur standar operasional tahunan yang dilaksanakan sebelum puncak perayaan Natal. Prosedur ini melibatkan penyisiran menyeluruh di area vital gereja seperti altar, mimbar, tempat duduk jemaat, area parkir, hingga sudut-sudut ruangan untuk mendeteksi potensi benda mencurigakan atau bahan peledak. Langkah ini juga diiringi dengan patroli skala besar yang dilakukan Kepolisian Daerah Sultra. Wakapolda Sultra Brigjen Pol Gidion Arief Setyawan sebelumnya telah memimpin rapat koordinasi lintas sektoral untuk menyamakan persepsi dan memperkuat sinergi dalam mengantisipasi berbagai potensi gangguan keamanan.
Secara historis, momen perayaan Natal dan Tahun Baru kerap menjadi target aksi terorisme di Indonesia, seperti Bom Malam Natal tahun 2000 dan insiden terorisme lainnya yang menuntut kewaspadaan ekstra dari aparat keamanan. Pengamat terorisme menilai bahwa ancaman masih besar, dan radikalisasi kini berlangsung cepat serta semakin oportunistik, menuntut pola pengamanan yang adaptif terhadap potensi ancaman beragam. Dengan data Kementerian Agama per 2025 yang mencatat adanya 325 gereja Kristen dan 60 gereja Katolik di Sulawesi Tenggara, upaya sterilisasi ini mencakup sebagian besar lokasi yang menjadi pusat ibadah umat Kristiani. Kapolda Sultra juga secara langsung meninjau beberapa gereja seperti Gereja Ora Et Labora, Gereja Santo Clemens, dan Gereja Imanuel, untuk memastikan kesiapan pengamanan.
Implikasi dari tindakan pengamanan yang intensif ini adalah terwujudnya rasa aman bagi masyarakat, khususnya umat Kristiani. Namun, ini juga menggarisbawahi realitas ancaman keamanan yang terus ada, mendorong kolaborasi yang lebih kuat antara aparat keamanan dan masyarakat. Komitmen untuk memberikan pelayanan yang humanis, profesional, dan responsif menjadi kunci dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban umum. Sinergi lintas sektor diharapkan tidak hanya meminimalkan potensi gangguan kamtibmas, tetapi juga mengantisipasi dampak cuaca ekstrem dan ketersediaan bahan pokok selama periode libur akhir tahun. Ketahanan sosial masyarakat dalam menolak paham radikalisme juga menjadi komponen esensial dalam menjaga kedamaian jangka panjang.