Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem: Jawa Tengah Rawan Banjir dan Longsor di Penghujung Tahun

2025-12-24 | 00:23 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-23T17:23:09Z
Ruang Iklan

BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem: Jawa Tengah Rawan Banjir dan Longsor di Penghujung Tahun

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini serius bagi seluruh wilayah Provinsi Jawa Tengah, mengindikasikan potensi peningkatan bencana hidrometeorologi, terutama banjir dan tanah longsor, yang diprediksi terjadi secara intensif sepanjang akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026, bertepatan dengan periode libur Natal dan Tahun Baru. Peringatan ini datang di tengah serangkaian dinamika atmosfer kompleks yang memicu curah hujan tinggi, mengancam keselamatan dan infrastruktur di banyak kabupaten dan kota.

Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, menjelaskan bahwa seluruh Jawa Tengah saat ini telah memasuki periode musim hujan. Pemantauan parameter global menunjukkan Indeks Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada kategori negatif sebesar minus 0,72, sementara Indeks El Niño-Southern Oscillation (ENSO) terpantau netral. Kombinasi faktor ini, menurut Teguh, secara langsung berkontribusi pada peningkatan intensitas curah hujan di wilayah Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Oleh karena itu, BBMKG Wilayah II mengeluarkan peringatan dini curah hujan tinggi untuk periode Dasarian III Desember 2025, atau antara tanggal 21-31 Desember 2025, dengan beberapa wilayah bahkan masuk dalam kategori Siaga.

Wilayah yang masuk dalam status Siaga, dengan potensi curah hujan berkisar 200–300 milimeter per dasarian, meliputi Kabupaten Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Magelang, Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, dan Cilacap. Sementara itu, daerah yang berstatus Waspada dengan curah hujan berkisar 150–200 milimeter per dasarian mencakup Kota Semarang, Kota Magelang, Kota Salatiga, Kabupaten Batang, Kendal, Demak, Jepara, Kudus, Pati, Temanggung, Kabupaten Semarang, Grobogan, Boyolali, Sragen, Sukoharjo, Karanganyar, Kebumen, dan Purworejo.

Di samping ancaman banjir dan tanah longsor, BMKG juga mencatat potensi terjadinya banjir rob di sejumlah wilayah pesisir Jawa Tengah, yang diperkirakan terjadi pada periode 21–30 Desember 2025. Wilayah pesisir yang berpotensi terdampak rob meliputi Semarang, Demak, Pekalongan, Batang, Kendal, Jepara, Brebes, Tegal, dan Pemalang. Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Kemaritiman Tanjung Emas, Ganis Eru Tjahjo, turut memperingatkan potensi gelombang laut tinggi, antara 1,25 hingga 2,5 meter, di perairan Kepulauan Karimunjawa dan Samudra Hindia selatan Jawa Tengah.

Fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) juga diprediksi akan memasuki wilayah Jawa Tengah, meningkatkan pertumbuhan awan dan risiko hujan lebat, terutama di lereng, tepi aliran sungai, dan daerah pantai. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, sebelumnya telah mengingatkan eskalasi cuaca ekstrem akibat masuknya Monsun Asia yang membawa uap air, diperparah oleh pengaruh Samudera Pasifik yang mendingin atau fenomena La Niña lemah, serta aktifnya gelombang atmosfer lainnya seperti Equatorial Rossby dan Low Frequency. La Niña lemah ini diprediksi mempengaruhi pola curah hujan di Jawa Tengah hingga April 2025, dengan curah hujan tinggi di wilayah pegunungan. Fenomena astronomis seperti fase bulan baru juga turut menciptakan potensi peningkatan curah hujan, angin kencang, dan gelombang tinggi.

Secara historis, Jawa Tengah adalah salah satu provinsi yang kerap dilanda bencana hidrometeorologi. Dalam periode 1 Januari hingga 9 Maret 2025, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah melaporkan 91 kejadian bencana, dengan 55 di antaranya adalah banjir, berdampak pada 407.214 jiwa dan menyebabkan 10.867 jiwa mengungsi. Pada tahun 2023, Jawa Tengah termasuk lima provinsi dengan kejadian bencana terbanyak, didominasi oleh banjir dan tanah longsor. Kejadian terbaru seperti banjir bandang di kawasan wisata Guci, Tegal, pada Desember 2025, telah merusak sejumlah infrastruktur penting dan mengingatkan kembali kerentanan wilayah ini.

Merespons ancaman ini, BPBD Jawa Tengah telah meningkatkan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai), Pusdataru (Pusat Data dan Informasi Tata Ruang), dan BMCK (Bina Marga dan Cipta Karya). Upaya mitigasi yang dilakukan meliputi pemetaan wilayah rawan bencana, edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, serta peningkatan infrastruktur tanggap bencana seperti jalur evakuasi dan bangunan tahan gempa. Penjabat Gubernur Jawa Tengah, Nana Sudjana, meminta seluruh kepala daerah untuk segera menggelar rapat koordinasi internal guna mengidentifikasi wilayah berisiko tinggi dan memastikan kesiapan sarana prasarana.

Peningkatan curah hujan dan risiko bencana ini berimplikasi luas, tidak hanya mengganggu mobilitas dan kegiatan ekonomi selama periode liburan Nataru, tetapi juga berpotensi merusak infrastruktur jalan, jembatan, dan sektor pertanian. Data BPBD Jawa Tengah pada Maret 2025 mencatat lebih dari 10.000 hektar lahan pertanian terdampak bencana. Kesiapsiagaan masyarakat untuk membersihkan saluran air, mengamankan barang-barang penting, dan menyiapkan rencana evakuasi mandiri menjadi krusial dalam menghadapi potensi bencana yang terus berlanjut hingga awal tahun 2026. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, memprediksi suhu Indonesia pada 2026 akan lebih stabil dan tidak sepanas 2024 atau 2025, tetapi curah hujan masih akan tinggi pada trimester awal 2026 karena pengaruh La Niña lemah.