:strip_icc()/kly-media-production/medias/5456052/original/000258500_1766796055-gempa_bengkulu.jpg)
Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,6 mengguncang perairan Enggano, Bengkulu, pada Sabtu, 27 Desember 2025, pukul 08.10.13 WIB, memicu respons cepat dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memastikan tidak ada potensi tsunami. Episenter gempa tercatat berada di laut, sekitar 24 kilometer arah barat daya Enggano, Bengkulu Utara, pada kedalaman 22 kilometer. Getaran gempa terasa nyata di Pulau Enggano dengan intensitas III Modified Mercalli Intensity (MMI), di mana penghuni merasakan guncangan seolah ada kendaraan berat melintas, sementara di Kaur, Kota Bengkulu, dan Pagar Alam, getaran dirasakan pada skala II-III MMI.
Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa gempa ini merupakan jenis gempa dangkal yang diakibatkan oleh aktivitas subduksi lempeng. Analisis mekanisme sumber menunjukkan pergerakan sesar naik atau thrust fault. Meskipun pusat gempa berada di laut dan memiliki mekanisme pergerakan naik, pemodelan BMKG secara konsisten menegaskan bahwa peristiwa ini tidak akan memicu gelombang tsunami. Hingga pukul 08.45 WIB, BMKG belum mendeteksi adanya aktivitas gempa susulan atau aftershock, dan belum ada laporan resmi mengenai kerusakan signifikan atau korban jiwa akibat gempa tersebut.
Secara geografis, wilayah Sumatera, termasuk Enggano dan Bengkulu, terletak pada zona tektonik Sunda Megathrust, sebuah area konvergensi di mana Lempeng Indo-Australia menunjam di bawah Lempeng Eurasia. Zona subduksi ini membentang dari Aceh hingga Lampung, menjadikan Sumatera, khususnya pantai baratnya, rentan terhadap aktivitas seismik tinggi. Provinsi Bengkulu sendiri berhadapan langsung dengan Samudera Hindia dan dilalui dua segmen megathrust utama, yaitu Mentawai-Pagai dan Enggano, yang menjadi generator gempa-gempa besar di wilayah tersebut. Segmen Enggano, yang memicu gempa terkini, memiliki potensi kekuatan gempa maksimum hingga magnitudo 8,4.
Sejarah mencatat Bengkulu telah berulang kali diguncang gempa dahsyat dan dilanda tsunami. Pada 4 Juni 2000, gempa bermagnitudo 7,9 melanda dari segmen Enggano, menewaskan sedikitnya 103 orang, termasuk 39 di Pulau Enggano. Gempa besar lainnya, bermagnitudo 8,4 pada 12 September 2007, yang berasal dari segmen Mentawai-Pagai, juga menyebabkan korban jiwa dan kerusakan luas. Secara historis, kota Bengkulu bahkan pernah dilanda tsunami pada tahun 1818 dan 1833. Potensi gempa dari zona subduksi ini sangat besar, bahkan penelitian Institut Teknologi Bandung (ITB) menyebutkan potensi tsunami hingga 20 meter di zona subduksi Selat Sunda yang merupakan kelanjutan dari segmen Sumatera.
Meskipun gempa hari ini tidak berpotensi tsunami, peristiwa ini berfungsi sebagai pengingat akan kerentanan seismik yang inheren di wilayah Bengkulu dan sekitarnya. Para ahli dan pejabat, termasuk dari Komisi VIII DPR RI, mendesak peningkatan kewaspadaan dan penguatan mitigasi bencana secara menyeluruh. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono sebelumnya telah menegaskan pentingnya masyarakat untuk selalu memastikan informasi kebencanaan diperoleh dari sumber resmi BMKG dan tetap tenang. Upaya mitigasi yang berkelanjutan, seperti pembangunan rumah tahan gempa, pemetaan wilayah rawan, serta edukasi publik mengenai langkah-langkah evakuasi dan kesiapsiagaan darurat, menjadi krusial untuk meminimalkan dampak potensial dari peristiwa seismik di masa depan.