
Pemerintah Aceh telah mengerahkan lima relawan ahli dari China untuk memperkuat upaya pencarian jenazah korban banjir bandang dan tanah longsor yang melanda provinsi tersebut sejak pertengahan November 2025. Langkah ini diambil menyusul banyaknya korban yang masih dilaporkan hilang dan diduga kuat tertimbun lumpur tebal.
Gubernur Aceh Muzakir Manaf, yang akrab disapa Mualem, mengonfirmasi kedatangan tim relawan dari Tiongkok ini. Mereka tiba di Aceh membawa peralatan canggih yang diklaim mampu mendeteksi keberadaan jenazah di bawah timbunan lumpur. Mualem menjelaskan bahwa alat tersebut sangat dibutuhkan mengingat kondisi lapangan yang ekstrem, di mana lumpur mencapai ketinggian sepinggang orang dewasa di beberapa lokasi, menyulitkan tim SAR lokal.
Tim relawan asal China tersebut dijadwalkan akan fokus membantu pencarian di wilayah-wilayah yang paling parah terdampak bencana, termasuk Kabupaten Aceh Timur, Aceh Utara, dan Aceh Tamiang. Daerah-daerah ini menjadi prioritas karena banyak desa dilaporkan "hilang nama" atau tersapu habis oleh banjir, menyebabkan jumlah korban jiwa dan hilang yang tinggi.
Banjir dan tanah longsor yang terjadi di Aceh merupakan akibat dari curah hujan tinggi yang berlangsung terus-menerus sejak 18 November 2025. Bencana ini telah berdampak pada sedikitnya 16 hingga 18 kabupaten/kota di seluruh Aceh, menyebabkan kerusakan infrastruktur yang parah, termasuk jalan dan jembatan yang putus, serta ribuan rumah rusak. Data terbaru hingga awal Desember 2025 menunjukkan bahwa jumlah korban meninggal dunia akibat bencana ini mencapai ratusan jiwa, dengan banyak lagi yang masih hilang. Di Kabupaten Aceh Timur saja, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat 47 orang meninggal dunia, 894 luka ringan, dan 306 luka berat, dengan puluhan ribu warga mengungsi.
Selain korban jiwa, bencana ini juga mengakibatkan puluhan ribu jiwa mengungsi dan menghadapi krisis kemanusiaan. Mualem sebelumnya telah menyuarakan kekhawatiran mengenai kemungkinan korban meninggal karena kelaparan di wilayah-wilayah terisolasi yang sulit dijangkau bantuan logistik. Situasi darurat ini juga mendorong Mualem untuk memberikan teguran keras kepada para bupati dan wali kota di Aceh, menyerukan agar mereka lebih sigap dan proaktif dalam penanganan bencana.