Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Banjir Purabaya Sukabumi: Rumah Hanyut, Korban Bertahan Hanya dengan Pakaian di Badan

2025-12-31 | 01:05 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-30T18:05:18Z
Ruang Iklan

Banjir Purabaya Sukabumi: Rumah Hanyut, Korban Bertahan Hanya dengan Pakaian di Badan

Air bah menerjang Kampung Cipeusing, Desa Cimerang, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi, pada Minggu, 28 Desember 2025 sore, menyapu bersih satu rumah dan merusak puluhan lainnya setelah Sungai Cimerang meluap drastis akibat hujan berintensitas tinggi sejak siang hari. Kiki Nurpalah (27), seorang warga terdampak, menyaksikan rumah peninggalan orang tuanya lenyap ditelan arus deras, hanya menyisakan pakaian yang melekat di badannya.

Kiki, yang saat kejadian tengah berteduh di rumah pamannya tidak jauh dari lokasi, mencoba kembali ke kediamannya untuk menyelamatkan harta benda, namun derasnya air setinggi pinggang membuatnya urung. Seluruh barang miliknya, termasuk kartu identitas (KTP), pakaian, hingga hewan ternak seperti ayam, hanyut tak bersisa. "Harapan terbesarnya sih karena ini rumah peninggalan orang tua. Orang tua saya sudah tidak ada. Bisa jadi lagi rumah saja itu harapan terbesarnya," ungkap Kiki dengan nada pilu.

Banjir bandang tersebut berdampak pada puluhan rumah di Desa Cimerang, dengan data awal menunjukkan lima rumah rusak berat dan enam rusak sedang di Kampung Cipeusing. Total enam rumah dilaporkan rusak berat dan 19 rusak sedang tersebar di beberapa kampung lain seperti Pentas, Sawo Jajar, Lembur Pasir, dan Gunung Buleud. Selain permukiman, bencana ini merusak tiga musala dan satu jembatan, serta menenggelamkan sembilan hektare lahan pertanian yang siap panen dengan material lumpur dan batu. Sektor peternakan juga terpukul dengan hilangnya sembilan ekor kambing dan satu kolam ikan. Beruntungnya, tidak ada laporan korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa ini.

Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Purabaya, IPTU Ruskan Hermawan, menyatakan bahwa pihaknya bersama Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK), TNI, pemerintah desa, dan relawan segera turun tangan untuk melakukan pengecekan, pengamanan, serta membantu penanganan awal pascabencana. Menurut Petugas P2BK Purabaya, Yanto Prayitno, koordinasi lintas sektor terus dilakukan, dan warga diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan. Kebutuhan mendesak bagi warga terdampak meliputi sembako, bahan bangunan rumah, dan pakaian layak pakai.

Bencana kali ini disebut warga lebih parah dibanding kejadian serupa pada tahun 2013, bahkan disebut "langka" oleh warga lainnya karena intensitasnya yang belum pernah terjadi selama puluhan tahun di wilayah tersebut. Micky Soradinata, seorang warga Desa Cimerang, mengindikasikan penyebabnya berasal dari kondisi hulu Sungai Cimerang di sekitar Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga (PPSC) Batu Gede dan Pasir Salam yang merupakan daerah tanah labil. Tanah longsor di hulu membawa lumpur ke Sungai Cimerang dan memperparah kondisi hilir saat terjadi luapan. Soradinata menegaskan tidak ada aktivitas tambang di wilayah hulu Sungai Cimerang, dan penyebab utama longsor serta banjir murni karena kondisi alam dan cuaca ekstrem.

Secara lebih luas, Kabupaten Sukabumi menghadapi tantangan bencana hidrometeorologi yang kompleks, yang tidak terlepas dari kombinasi curah hujan ekstrem dan kondisi lingkungan yang rentan. Analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi bibit siklon dan sirkulasi siklonik yang memicu hujan lebat hingga sangat lebat disertai angin kencang di Jawa Barat pada awal Desember 2024, meningkatkan potensi banjir. Sementara itu, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Barat pada Desember 2024 menduga aktivitas tambang emas dan galian kuarsa, serta degradasi hutan akibat pembukaan lahan untuk proyek Hutan Tanaman Energi (HTE), turut berkontribusi pada bencana banjir bandang dan tanah longsor di beberapa kecamatan Sukabumi. Meskipun demikian, untuk kejadian di Purabaya ini, penekanan pada faktor alam dan cuaca ekstrem menjadi sorotan utama.

Ketua RW setempat, Rustaman, menegaskan bahwa rumah-rumah yang terendam banjir dan lumpur tidak memungkinkan warga menyelamatkan harta benda mereka. Ia berharap pemerintah memberikan perhatian dan bantuan untuk warga terdampak, termasuk bagi anak-anak sekolah yang seragamnya turut hilang. Peristiwa di Purabaya menggarisbawahi kerentanan komunitas terhadap dampak perubahan iklim dan urgensi penataan ruang serta mitigasi bencana yang komprehensif untuk melindungi warga dari ancaman yang terus berulang.