:strip_icc()/kly-media-production/medias/5169253/original/091368400_1742511936-1.jpg)
Banjir besar kembali melanda Kabupaten Bandung, Jawa Barat, sejak Kamis, 4 Desember 2025, sekitar pukul 18.15 WIB, merendam setidaknya delapan kecamatan dan menyebabkan ribuan warga terdampak. Bencana hidrometeorologi ini dipicu oleh curah hujan berintensitas tinggi yang menyebabkan luapan Sungai Citarum beserta anak-anak sungainya seperti Cikapundung, Cigede, dan Cipalasari.
Delapan kecamatan yang paling parah terdampak meliputi Dayeuhkolot, Bojongsoang, Baleendah, Soreang, Banjaran, Ciwidey, Margaasih, dan Katapang. Beberapa laporan juga menyebutkan Kecamatan Andir dan Rancamanyar turut terendam. Data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung per Jumat, 5 Desember 2025, mencatat sebanyak 34.497 jiwa terdampak banjir. Kecamatan Dayeuhkolot menjadi wilayah dengan angka terdampak tertinggi, mencapai 25.918 jiwa, diikuti oleh Baleendah dengan 5.579 jiwa, dan Bojongsoang sekitar 3.000 jiwa.
Ketinggian muka air (TMA) di berbagai lokasi bervariasi antara 10 sentimeter hingga 150 sentimeter, dengan titik tertinggi terjadi di Kecamatan Dayeuhkolot. Kecamatan lain seperti Andir mencatat TMA 10-50 cm, Rancamanyar 20-120 cm, dan Baleendah 20-120 cm. Banjir juga telah merendam 2.129 unit bangunan, termasuk tempat tinggal, serta menyebabkan kerusakan ringan pada 10 unit rumah. Selain itu, dua fasilitas umum dan satu tempat ibadah turut terdampak. Sebanyak 162 Kepala Keluarga (KK) atau 457 jiwa terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Dari jumlah tersebut, 307 jiwa (99 KK) berasal dari Dayeuhkolot dan 150 jiwa (62 KK) dari Baleendah.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyoroti bahwa masalah banjir di Kabupaten Bandung tidak bisa lagi ditangani secara parsial. Ia menegaskan akar permasalahan terletak pada rusaknya tata ruang di kawasan hulu dan maraknya alih fungsi lahan. Dedi Mulyadi menjelaskan, perubahan fungsi lahan dari perkebunan teh dan hutan menjadi kebun sayur memicu erosi dan sedimentasi besar ke aliran Sungai Citarum, memperparah kondisi banjir.
Untuk mengatasi siklus banjir tahunan ini, Pemprov Jawa Barat menyiapkan tiga langkah strategis: mengembalikan tata ruang kawasan hulu dengan memperluas ruang terbuka hijau, menghentikan alih fungsi lahan secara masif, serta pembangunan bendungan di Kertasari untuk mengendalikan volume air dari hulu.
Menyikapi bencana ini, BPBD Provinsi Jawa Barat dan BPBD Kabupaten Bandung terus berkoordinasi. Petugas di lapangan melakukan asesmen dampak, pendataan kerusakan, serta mendistribusikan bantuan logistik dan makanan siap saji kepada warga terdampak. Meskipun bencana longsor juga terjadi di beberapa kecamatan seperti Pangalengan, Cangkuang, Soreang, dan Cimaung, Pemerintah Kabupaten Bandung belum menetapkan status tanggap darurat, namun rapat pembahasan penanganan bencana sedang berlangsung. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dan segera melaporkan perkembangan di lapangan guna mempercepat upaya penanganan.