:strip_icc()/kly-media-production/medias/5456038/original/061224600_1766789013-banjir_di_Gunungkidul.jpg)
Hujan deras tanpa henti sejak Jumat sore, 26 Desember 2025, telah memicu banjir genangan di sejumlah titik di Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menyebabkan gangguan serius pada aktivitas warga dan infrastruktur utama. Dampak paling signifikan terlihat di kompleks SMK Negeri 1 Tanjungsari hingga ruas Jalan Baron, jalur vital menuju kawasan wisata pantai selatan, yang sempat terputus dan mengharuskan pengalihan arus lalu lintas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY mencatat Gunungkidul sebagai salah satu wilayah yang paling terdampak cuaca ekstrem ini, dengan estimasi kerugian sementara mencapai Rp 900.000, mencakup dua unit rumah rusak, satu tempat pendidikan, dan 28 unit tempat usaha atau kios yang tergenang.
Koordinator SAR Satlinmas Wilayah Operasi II Baron, Surisdiyanto, menjelaskan bahwa intensitas hujan yang tinggi menjadi pemicu utama genangan air di lokasi dengan kontur rendah, diperparah oleh kiriman air dari perbukitan. Air yang meluap dari luweng atau gua vertikal dan sungai bawah tanah di Pantai Baron juga turut memperparah kondisi, dengan ketinggian genangan mencapai sekitar 30 hingga 50 sentimeter di beberapa titik jalan utama menuju pantai. Meskipun genangan mulai surut pada Sabtu pagi, portal masih terpasang di jalur utama depan SMKN 1 Tanjungsari, mengalihkan kendaraan besar seperti bus pariwisata untuk sementara melalui Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) demi menghindari risiko kerusakan mesin.
Banjir genangan bukan fenomena baru di Gunungkidul. Wilayah ini secara geografis memang rentan terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor, dengan karakteristik karst di bagian selatan dan pegunungan Baturagung di utara. Catatan BPBD Gunungkidul menunjukkan bahwa banjir kerap terjadi setiap tahun, terutama di sepanjang aliran Sungai Oya dan di beberapa titik dengan luweng yang tersumbat sampah plastik. Contoh signifikan terjadi pada akhir tahun 2017 akibat Badai Cempaka yang merendam banyak rumah di sepanjang aliran Kalioya dan menyebabkan gangguan luas. Pada awal 2025, Gunungkidul juga sempat dilanda banjir besar akibat curah hujan tinggi, saluran air tersumbat, dan luweng yang tertutup sedimentasi dan sampah.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi DIY telah mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi cuaca ekstrem di Daerah Istimewa Yogyakarta, termasuk Gunungkidul, pada periode akhir tahun 2025 hingga awal 2026. Puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Januari hingga Februari 2026, dengan potensi curah hujan di atas normal. Peningkatan curah hujan signifikan ini dipicu oleh aktifnya IOD Negatif yang menambah suplai uap air, MJO di fase 4, serta adanya gelombang Ekuatorial Rossby. Kondisi ini berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, genangan air, dan tanah longsor.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul telah berupaya melakukan mitigasi dengan mengalokasikan anggaran Rp 650 juta dari APBD Perubahan 2025 untuk revitalisasi luweng dan pengerukan sungai di kawasan perkotaan. Langkah ini, menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat, dan Kawasan Permukiman Gunungkidul Rakhmadian Wijayanto, bertujuan mencegah pengikisan tanah dan penutupan luweng. Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, juga meluncurkan gerakan bersih kali sebagai bagian dari program pelestarian lingkungan dan mitigasi bencana hidrometeorologi.
Meskipun demikian, tantangan ke depan tetap besar. Pakar hidrometeorologi ITB, Armi Susandi, mengungkapkan bahwa temperatur permukaan laut di antara Jawa dan Kalimantan yang semakin tinggi dapat memicu bencana dahsyat, didorong pula oleh aliran massa udara dari Laut China Selatan dan Australia. Sementara itu, peneliti hidrologi hutan dan konservasi DAS UGM, Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, S.Hut., M.Si., IPU., menyoroti bahwa kerusakan ekosistem hutan di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) menghilangkan daya dukung ekosistem untuk meredam curah hujan tinggi, memperparah dampak banjir. Di sisi lain, wilayah pesisir selatan juga menghadapi ancaman abrasi. BPBD DIY bahkan mengimbau warga untuk memundurkan bangunan hingga 100 meter dari garis pantai karena penggerusan pantai yang terjadi setiap tahun.
Melihat pola cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi dan kerentanan geologis wilayah, kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah dalam adaptasi serta mitigasi bencana jangka panjang menjadi krusial. Pembersihan saluran air dan pemangkasan dahan pohon secara berkala, seperti yang diimbau BPBD Gunungkidul, merupakan langkah penting untuk mengurangi dampak. Namun, solusi holistik yang mencakup tata ruang berbasis DAS yang berkelanjutan dan pelestarian ekosistem hulu diperlukan untuk menghadapi ancaman hidrometeorologi yang diprediksi akan terus meningkat.