Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Angin Pangandaran Renggut Nyawa Dua Penerjun Payung yang Hilang Kendali

2025-12-30 | 20:44 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-30T13:44:53Z
Ruang Iklan

Angin Pangandaran Renggut Nyawa Dua Penerjun Payung yang Hilang Kendali

Dua atlet terjun payung, Rusli (62) dan Widiasih (58), meninggal dunia setelah kehilangan kendali akibat terpaan angin signifikan dan jatuh ke perairan Laut Bojongsalawe, Desa Karangjaladri, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, pada Selasa, 30 Desember 2025. Insiden tragis ini terjadi saat keduanya berpartisipasi dalam kegiatan Kejuaraan Daerah (Kejurda) sekaligus Babak Kualifikasi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) cabang olahraga terjun payung.

Peristiwa nahas itu bermula sekitar pukul 10.15 WIB ketika pesawat latih Cessna 185 PK-SRC milik Fly School Ganesha lepas landas dari Bandara Nusawiru, membawa lima atlet terjun payung. Pada ketinggian sekitar 10.000 kaki, terjadi perubahan arah angin yang signifikan, menyebabkan kelima penerjun kehilangan kendali dan arah pendaratan yang semestinya. Tiga atlet lainnya, Khudlori, Muhammad Almuthofa, dan Karni, berhasil melakukan pendaratan darurat di Pantai Bojongsalawe dalam kondisi selamat. Sementara Rusli, atlet asal Medan, dan Widiasih, warga Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, jatuh ke perairan laut dan dinyatakan meninggal dunia akibat tenggelam setelah dievakuasi tim gabungan.

Kepala Kepolisian Resor Pangandaran, AKBP Andri Kurniawan, mengonfirmasi hasil pemeriksaan medis yang menyatakan kedua korban meninggal dunia akibat tenggelam. AKBP Andri Kurniawan juga mengungkapkan bahwa kegiatan Kejuaraan Daerah Provinsi Jawa Barat tersebut tidak diberitahukan sebelumnya kepada Polres Pangandaran. Pihak kepolisian telah menghentikan sementara seluruh kegiatan terjun payung di lokasi tersebut untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut. Tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, Satuan Polairud, TNI, dan tim kesehatan segera bergerak melakukan penanganan dan pencarian korban, menghadapi tantangan kondisi cuaca dengan gelombang tinggi dan angin yang cukup kuat saat evakuasi. Seorang nelayan setempat, Dadan Hidayat (51), menjadi saksi mata yang melihat kedua penerjun jatuh dengan kecepatan tinggi ke laut.

Insiden ini menyoroti kembali pentingnya koordinasi antara penyelenggara olahraga ekstrem dengan aparat keamanan serta evaluasi ketat terhadap faktor keselamatan dan kondisi cuaca. Meskipun prakiraan cuaca umum BMKG untuk Pangandaran pada hari kejadian menunjukkan kondisi cerah berawan dengan kecepatan angin relatif rendah di permukaan, laporan kepolisian secara spesifik menyoroti perubahan arah dan kecepatan angin yang signifikan pada ketinggian 10.000 kaki sebagai pemicu utama kecelakaan. Perbedaan kondisi angin di permukaan dan di ketinggian seringkali menjadi tantangan dalam olahraga dirgantara yang menuntut akurasi data cuaca vertikal.

Tragedi ini menambah daftar panjang risiko yang melekat pada olahraga ekstrem seperti terjun payung. Sebelumnya, pada Oktober 2025, seorang prajurit TNI Angkatan Laut juga gugur dalam insiden terjun payung di Teluk Jakarta akibat kendala pada parasut. Rentetan kejadian ini mendesak otoritas terkait, termasuk Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), untuk melakukan tinjauan komprehensif terhadap standar operasional prosedur, sistem pemantauan cuaca real-time di berbagai ketinggian, serta regulasi perizinan dan pengawasan kegiatan olahraga dirgantara. Peningkatan sosialisasi mengenai pentingnya pemberitahuan kegiatan kepada pihak berwenang dan kepatuhan terhadap protokol keselamatan menjadi krusial untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang. Kecelakaan di Pangandaran ini dapat berimplikasi pada pengetatan regulasi dan persyaratan bagi penyelenggara dan peserta olahraga dirgantara di Jawa Barat, bahkan secara nasional, demi menjamin keamanan atlet dan masyarakat.