:strip_icc()/kly-media-production/medias/5433995/original/041249400_1764908788-9.jpg)
Kepolisian Daerah (Polda) Riau telah mengirimkan gelombang keempat bantuan kemanusiaan untuk mempercepat penanganan pascabencana banjir bandang dan longsor di Provinsi Aceh dan Sumatera Barat. Sebanyak 3.459 unit alat kerja diberangkatkan dari Lapangan Markas Polda Riau di Pekanbaru pada Jumat, 5 Desember 2025, sekitar pukul 14.00 WIB.
Bantuan ini difokuskan pada peralatan pemulihan manual yang sangat dibutuhkan di lokasi terdampak, khususnya untuk membersihkan material lumpur, kayu, dan puing sisa bencana. Peralatan yang dikirim meliputi 945 angkong, 1.256 cangkul, dan 1.258 sekop. Kepala Biro Operasi (Karo Ops) Polda Riau Kombes Ino Harianto memimpin apel pelepasan bantuan tersebut. Kombes Ino menjelaskan bahwa bantuan ini disiapkan berdasarkan kebutuhan mendesak dari posko bencana yang memprioritaskan percepatan pembersihan di permukiman warga dan lokasi yang tidak dapat dijangkau alat berat.
Pengiriman bantuan ini dibagi untuk dua provinsi tujuan, yaitu Aceh dan Sumatera Barat. Untuk penyaluran ke Sumatera Barat, Polda Riau menugaskan langsung Kapolresta Pekanbaru Kombes Jeki untuk mengantarkan bantuan ke lokasi terdampak. Kombes Ino juga menekankan bahwa setiap gelombang bantuan merupakan wujud kehadiran negara melalui Polri, serta pesan solidaritas bagi masyarakat yang menghadapi masa sulit.
Sebelumnya, Polda Riau juga telah mengirimkan bantuan berupa alat berat seperti ekskavator dan dozer, toilet portabel, serta lebih dari 290 personel yang diperkuat tim trauma healing untuk mendukung penanganan di lapangan. Tahap pengiriman kali ini menyasar kebutuhan kerja manual di titik-titik yang akses jalannya sudah terbuka, namun masih memerlukan pembersihan lanjutan di lingkungan tempat tinggal warga.
Bencana banjir dan longsor di Sumatera telah menyebabkan dampak signifikan. Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Sabtu, 6 Desember 2025, mencatat total korban meninggal dunia di tiga provinsi terdampak (Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat) mencapai 914 jiwa. Selain itu, sebanyak 389 orang masih dinyatakan hilang dan sekitar 849.133 warga terpaksa mengungsi. Upaya pencarian dan penyelamatan terus dilakukan oleh tim gabungan di berbagai lokasi terdampak.