:strip_icc()/kly-media-production/medias/1451016/original/075364500_1483088850-o-CLEAN-WATER-facebook.jpg)
Kelurahan Fatukoa, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) kini mendapatkan pasokan air bersih yang mengalir ke 1.526 kepala keluarga melalui Program Pena Air Bersih, hasil kolaborasi Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pertamina Trans Kontinental (PTK). Realisasi ini menjadi langkah signifikan dalam mengatasi krisis air bersih yang telah lama melanda wilayah tersebut, di mana sebelumnya warga sangat bergantung pada sumur dangkal dengan pasokan tidak stabil, terutama saat musim kemarau.
Krisis air bersih merupakan isu kronis di NTT, daerah yang sering disebut sebagai wilayah kering akibat kondisi iklim, curah hujan rendah, dan musim kemarau panjang. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 menunjukkan lebih dari 60% rumah tangga di NTT tidak memiliki akses langsung ke sumber air bersih yang layak, memaksa mereka mengandalkan sumber air yang jauh dan tidak selalu memenuhi standar kesehatan. Kondisi ini tidak hanya membebani secara ekonomi, tetapi juga berimplikasi serius pada kesehatan masyarakat, meningkatkan risiko penyakit berbasis air seperti diare, tifus, infeksi kulit, hingga stunting pada anak-anak.
Sebelum intervensi ini, warga Fatukoa harus menempuh perjalanan jauh atau membeli air dari tangki keliling dengan harga yang memberatkan. Sebagian masyarakat bahkan terpaksa menggali sumur manual atau mengandalkan air di kali saat musim kemarau. Permasalahan pasokan air di Kelurahan Fatukoa sebelumnya juga diperparah dengan pemutusan meteran sumur bor oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Lontar Kota Kupang pada Mei 2024, disebabkan oleh tunggakan pembayaran dari sebagian pelanggan. Meskipun ada upaya dari PDAM untuk membuka kembali layanan sumur bor di Fatukoa pada Juli 2024, masalah tunggakan masih menjadi kendala yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Program Pena Air Bersih oleh PTK tidak hanya menyediakan infrastruktur air layak, tetapi juga diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui dukungan kesehatan, kebersihan lingkungan, serta aktivitas sosial dan ekonomi. Wakil Presiden Legal & Relations PTK, Amran Reza, menyatakan bahwa keberhasilan program TJSL diukur dari manfaat nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat, menegaskan bahwa air bersih adalah kebutuhan paling mendasar. Direktur Utama PTK, I Ketut Laba, juga menekankan bahwa penyediaan air bersih adalah fokus dari komitmen perusahaan melalui program TJSL sebagai kontribusi nyata dan berkelanjutan.
Keberlanjutan program ini sangat bergantung pada pengelolaan dan perawatan rutin oleh masyarakat, dengan Dinas PUPR Kota Kupang siap memberikan dukungan teknis jika diperlukan. Secara lebih luas, pemerintah daerah di NTT terus berupaya mengatasi krisis air. Pada Oktober 2025, Direktur PDAM Kota Kupang, Isidorus Lilijawa, menyampaikan prioritasnya untuk mengoptimalkan sumber air, memperluas pipanisasi, menyelesaikan pengelolaan aset bersama Kabupaten Kupang, dan menata pegawai. Selain itu, pada tahun 2025, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Kupang juga mengalokasikan anggaran sekitar Rp2,5 miliar dari pemerintah pusat untuk program air minum dan sanitasi, termasuk perluasan jaringan perpipaan sepanjang 4 kilometer 272 meter di wilayah Rotterdam dan 50 sambungan rumah di Penkase Oeleta, yang juga bertujuan menurunkan angka stunting. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga meresmikan 39 titik sumur bor di 13 kabupaten/kota di NTT pada Agustus 2025, sebagai upaya menanggulangi krisis air akibat kekeringan.
Meski demikian, tantangan untuk mencapai akses air bersih yang merata di seluruh NTT masih besar. Kondisi geografis dan ekonomis di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) seringkali menjadi hambatan. Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui program pengabdian masyarakat juga telah berkontribusi membangun sumur bor di Fatukoa pada September 2024 serta di tujuh desa lain di Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Malaka pada November 2024. Inisiatif multipihak ini, termasuk kolaborasi antara Yayasan Insan Bumi Mandiri, Bank Indonesia, dan Solar Chapter melalui Program Merdeka Air 2025, menyoroti kompleksitas dan urgensi masalah air bersih di NTT yang membutuhkan solusi berkelanjutan dan kolaboratif dari berbagai sektor. Target pemerintah untuk seluruh masyarakat dapat menikmati air minum yang aman dan merata pada tahun 2030 memerlukan komitmen kuat dan implementasi strategi jangka panjang.