Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Tragedi Banjir Aceh: Gajah Mati Terkepung Tumpukan Kayu

2025-11-30 | 00:33 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-29T17:33:09Z
Ruang Iklan

Tragedi Banjir Aceh: Gajah Mati Terkepung Tumpukan Kayu

Seekor gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) ditemukan mati di antara tumpukan kayu dan lumpur pasca-banjir bandang yang melanda Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Bangkai gajah yang merupakan satwa dilindungi tersebut ditemukan di Gampong Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu, pada Sabtu, 29 November 2025.

Lokasi penemuan berada di wilayah terisolasi akibat luapan Sungai Meureudu, yang hanya dapat dijangkau dengan berjalan kaki sekitar dua jam. Saat ditemukan, setengah badan gajah terbenam dan terkubur material sisa banjir bandang dengan posisi kepala mengarah ke bawah, terjepit di antara tumpukan kayu hutan dan lumpur yang terbawa arus.

Menurut pengakuan warga setempat, Muhammad Yunus, masyarakat Desa Meunasah Lhok belum pernah melihat gajah di desa mereka sebelumnya, karena satwa tersebut biasanya berada di hutan. Yunus menduga gajah itu terseret arus banjir bandang dari kawasan hutan di hulu sungai. Ia juga menyatakan keterkejutannya melihat banyaknya kayu hutan berukuran luar biasa besar yang terbawa hingga ke permukiman.

Wakil Bupati Pidie Jaya, Hasan Basri, membenarkan laporan penemuan bangkai gajah tersebut. Ia mengakui banyaknya material kayu hutan yang hanyut telah menyebabkan kerusakan parah pada rumah warga, fasilitas umum, sekolah, dan rumah ibadah. Namun, Hasan Basri belum dapat memastikan apakah banjir bandang ini dipicu oleh kerusakan hutan di daerah hulu. Pihaknya berencana untuk memeriksa kondisi hutan pasca-bencana.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Wisnu Ujang Barata, menyatakan bahwa pihaknya menerima informasi penemuan bangkai gajah pada Jumat, 28 November 2025, ketika banjir mulai surut. Usia gajah belum diketahui pasti, namun diperkirakan masih terbilang muda jika dilihat dari ukuran tubuhnya.

Hingga Sabtu sore, bangkai gajah tersebut masih terjepit di antara material sisa banjir dan mulai mengeluarkan bau busuk. Warga kesulitan memindahkan bangkai karena kondisi medan yang sulit dan minimnya peralatan. Bencana hidrometeorologi akibat siklon tropis Senyar kali ini disebut sebagai yang terparah di Aceh setelah gempa dan tsunami 2004, tidak hanya merenggut korban jiwa manusia dan merusak infrastruktur, tetapi juga mengancam kelangsungan hidup satwa liar. Dampak banjir juga menyebabkan 12 menara transmisi listrik roboh, mengakibatkan padam totalnya listrik di Aceh.