Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Sikka NTT Diguncang Lonjakan HIV/AIDS: Wabah Meluas ke Seluruh Kecamatan

2025-11-28 | 13:31 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-28T06:31:56Z
Ruang Iklan

Sikka NTT Diguncang Lonjakan HIV/AIDS: Wabah Meluas ke Seluruh Kecamatan

Kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, terus menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan, dengan seluruh kecamatan kini telah terpapar. Data kumulatif dari tahun 2003 hingga Juli 2025 mencatat total 1.225 kasus HIV/AIDS di wilayah tersebut.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 369 kasus merupakan HIV dan 857 kasus telah berkembang menjadi AIDS. Angka kematian akibat penyakit ini juga tercatat mencapai 260 orang. Dalam periode Januari hingga Juli 2025 saja, telah ditemukan 35 kasus baru, menandakan bahwa laju penularan masih terus terjadi di tengah masyarakat.

Wakil Bupati Sikka, Simon Subandi Supriadi, selaku Ketua Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kabupaten Sikka, dalam sebuah konferensi pers pada Kamis, 27 November 2025, mengungkapkan bahwa kasus HIV/AIDS tidak hanya menyebar ke seluruh wilayah kecamatan tetapi juga menyerang semua kelompok umur dan hampir seluruh profesi masyarakat. Berdasarkan data hingga Desember 2024, penderita terbanyak berada pada rentang usia produktif 25 hingga 49 tahun, dengan 875 kasus. Sementara itu, profesi ibu rumah tangga mendominasi jumlah penderita dengan 292 kasus, diikuti oleh pekerja swasta, petani, pengangguran, dan sopir. Secara gender, laki-laki lebih banyak terinfeksi dengan 747 kasus (62,77 persen) dibandingkan perempuan 443 kasus (37,23 persen) hingga Desember 2024.

Faktor risiko penularan didominasi oleh hubungan heteroseksual dengan 1.012 kasus, disusul oleh hubungan homoseksual sebanyak 135 kasus, penularan dari ibu ke anak (perinatal) 51 kasus, penyebab tidak diketahui 23 kasus, dan penggunaan narkoba suntik (penasun) 4 kasus. Beberapa kecamatan menunjukkan angka kasus yang tinggi, seperti Waigete yang mencatat 11 kasus tertinggi pada tahun 2024, serta Kecamatan Alok, Alok Timur, Alok Barat, Nita, dan Kecamatan Bola yang disebut sebagai penyumbang kasus terbanyak.

Pemerintah Kabupaten Sikka terus berupaya keras untuk menekan laju penyebaran HIV/AIDS dengan menargetkan "Sikka Bebas AIDS 2030." Berbagai langkah strategis telah ditempuh, termasuk memperkuat layanan tes HIV melalui klinik VCT di puskesmas, klinik CST di RSUD Maumere, serta menyiapkan tenaga medis terlatih. Tiga puskesmas, yakni Beru, Nita, dan Waipare, bahkan menyediakan layanan penanggulangan HIV/AIDS secara gratis.

KPAD Sikka juga telah membentuk 87 kelompok Warga Peduli AIDS (WPA) di desa dan kelurahan, serta mendorong pemerintah desa untuk aktif terlibat dan mengalokasikan anggaran dari dana desa untuk penanggulangan HIV/AIDS, TBC, dan Malaria, sesuai Surat Edaran Bupati Sikka Nomor PMD.400.7.8/189/X/2025 tanggal 7 Oktober 2025. Selain itu, program pencegahan dilakukan melalui Program Suluh, Temukan, Obati, Pertahankan (STOP), sosialisasi dan edukasi intensif kepada masyarakat, termasuk pendidikan seksualitas dini, serta imbauan wajib pemeriksaan kesehatan pranikah bagi calon pasangan suami istri. Pemerintah juga terus mencari Orang Dengan HIV (ODHIV) yang putus obat agar kembali melanjutkan pengobatan untuk mencegah penularan baru.

Meskipun demikian, stigma sosial masih menjadi tantangan terbesar dalam penanggulangan HIV/AIDS di Sikka. Stigma ini seringkali menyebabkan penderita menyembunyikan statusnya, mengonsumsi obat Antiretroviral (ARV) secara diam-diam, atau bahkan berhenti dari pengobatan, yang berpotensi memperburuk kondisi kesehatan dan memperluas penularan. Komitmen dan kolaborasi semua pihak, dari pemerintah hingga masyarakat, sangat dibutuhkan untuk mengatasi hambatan stigma dan mewujudkan Sikka Bebas AIDS pada tahun 2030.