:strip_icc()/kly-media-production/medias/5414626/original/041182400_1763329434-WhatsApp_Image_2025-11-17_at_02.08.04.jpeg)
Peresmian Vihara Karuna Dipa di Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada Minggu, 16 November 2025, menjadi momen bersejarah dan penuh makna bagi umat Buddha Theravada setelah penantian tiga dekade. Vihara yang berlokasi di Jalan Sungai Lariang, Kelurahan Nunu, Kecamatan Tatanga, ini tidak hanya menegaskan komitmen spiritual dan budaya, tetapi juga menjadi simbol kuat toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Bumi Tadulako.
Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny A. Lamadjido, memimpin langsung acara peresmian yang dihadiri oleh Ketua Umum (Sanghanayaka) Dewan Pimpinan Sangha Theravada Indonesia (STI), Bhikkhu Sri Subhapanno Mahāthera, Ketua Yayasan Karuna Dipa Wijaya Chandra, serta sejumlah unsur Forkopimda, pejabat daerah, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), dan tokoh lintas agama. Momen ini terasa semakin istimewa lantaran memiliki ikatan sejarah personal bagi keluarga Lamadjido. Peletakan batu pertama Vihara Karuna Dipa dilakukan pada 20 Juli 1995 oleh Gubernur Sulawesi Tengah ke-8, Abdul Aziz Lamadjido, yang merupakan ayah kandung dari Wakil Gubernur Reny Lamadjido.
Dalam sambutannya, Wakil Gubernur Reny A. Lamadjido menyampaikan rasa bangga dan haru, berharap vihara ini dapat menjadi pusat kerukunan dan kedamaian bagi semua umat beragama di Sulawesi Tengah. Ia juga mengapresiasi kontribusi Yayasan Karuna Dipa dalam mencerdaskan masyarakat melalui lembaga pendidikan yang telah ada.
Ketua Yayasan Karuna Dipa, Wijaya Chandra, menjelaskan bahwa lamanya proses pembangunan hingga peresmian selama 30 tahun disebabkan oleh prioritas yayasan untuk terlebih dahulu memperkuat pendidikan umat Buddha melalui pengembangan Sekolah Karuna Dipa. Menurut Wijaya Chandra, "Umat akan kuat kalau terdidik", sebuah filosofi yang menjadi fondasi sebelum vihara ini berdiri megah. Peletakan batu pertama juga melibatkan Hermanto Chandra (ayah Wijaya Chandra) atau Robby Chandra, yang kala itu menjadi panitia pembangunan.
Bhikkhu Sri Subhapanno Mahāthera turut mengenang jasa Abdul Aziz Lamadjido yang sejak awal menunjukkan dukungan terhadap pembangunan rumah ibadah lintas agama, serta mengapresiasi keberlanjutan perjuangan tersebut oleh Reny Lamadjido. Ia berharap Vihara Karuna Dipa dapat memberikan sumbangsih positif bagi daerah dan masyarakat luas.
Vihara Karuna Dipa berdiri di atas lahan seluas lebih dari 3.000 meter persegi dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas modern, termasuk gedung utama untuk ritual keagamaan, ruang pendidikan agama, aula serbaguna, tempat tinggal biksu, gedung kantor, dapur, serta candi dan stupa sebagai sarana edukasi. Dengan arsitektur bercorak Souraja, vihara ini tidak hanya merefleksikan nilai spiritual, tetapi juga menjadi wujud apresiasi terhadap kekayaan budaya lokal yang damai dan toleran.
Meskipun jumlah umat Buddha di Sulawesi Tengah sekitar 3.000 orang, nilai-nilai moderasi beragama tercermin kuat dalam komunitas tersebut. Salah satu contoh nyata adalah keterlibatan para pengusaha Buddha dalam pembangunan sekitar 2.000 hunian tetap (huntap) bagi masyarakat lintas agama pascabencana 2018, menunjukkan bahwa umat Buddha tidak hanya membangun untuk diri sendiri, tetapi juga untuk sesama tanpa memandang perbedaan. Peresmian ini menegaskan kembali bahwa Vihara Karuna Dipa diharapkan menjadi pusat kerukunan dan kedamaian, serta memperkuat kesadaran masyarakat tentang pentingnya toleransi dan harmoni antarumat beragama di Sulawesi Tengah.