:strip_icc()/kly-media-production/medias/5427754/original/071713300_1764413958-Kain_khas_Banjar_sasirangan.jpeg)
Semangat kaum muda Banjarmasin terbukti menjadi motor penggerak utama dalam membawa kain Sasirangan, warisan budaya tak benda khas Kalimantan Selatan, menembus panggung dunia. Dedikasi dan inovasi para generasi penerus ini tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga mentransformasikannya menjadi bagian dari gaya hidup modern yang diminati secara global.
Salah satu sosok yang menonjol adalah Sandi Agustinus, pengrajin Sasirangan milenial yang melalui "Kantan Sasirangan" berhasil meraih berbagai penghargaan dan membawa kain tradisional ini hingga ke kancah internasional. Baru-baru ini, Sandi memperkenalkan Sasirangan kepada para pelajar di Houbi Junior High School, Taiwan, mengedukasi sekitar 100 siswa dari empat kelas mengenai sejarah kain Banjar dan praktik pembuatannya, termasuk penggunaan pewarna alami dari tumbuhan. Pengalaman ini membuktikan bahwa Sasirangan dapat diterima dan diapresiasi di luar negeri, menjadikannya penyambung tradisi yang meyakini budaya akan hidup jika terus diolah kembali.
Selain Sandi, berbagai inisiatif dari para pemuda Banjarmasin turut memperkuat posisi Sasirangan di pasar global. Refa Gallery, sebuah jenama fesyen berbasis di Banjarmasin yang fokus pada motif Sasirangan, memulai usahanya pada tahun 2019 dan kini memiliki potensi ekspor ke Amerika Serikat, bahkan produknya telah ditemukan di luar negeri seperti Mesir. Desainer Nabil Salim juga berkontribusi dengan menciptakan motif-motif Sasirangan baru, seperti motif Nenas yang memiliki makna pembersih hati dan jiwa, untuk menembus dunia fesyen nasional dan internasional. Nabil bahkan berkolaborasi dengan perancang busana nasional, Naniek Rachmat, untuk mengusung Sasirangan dalam peragaan busana internasional, dengan ambisi untuk bersaing dengan kain Shibori dari Jepang. Inovasi juga datang dari seorang anak muda Banjarmasin yang berhasil mengolah kain Sasirangan menjadi celana sekaligus sarung yang praktis, dengan penjualan yang meluas hingga Jakarta, Lampung, Bali, Yogyakarta, dan Papua, mencapai omzet jutaan rupiah setiap bulan. Nela Alyda dari Kampung Sasirangan Sei Jingah, melalui mereknya Nela Sasirangan, juga memberdayakan ibu-ibu rumah tangga dan pengrajin perempuan untuk memproduksi busana Sasirangan kekinian, menjadikannya bagian dari gaya hidup modern.
Gerakan "Banjar Core" juga mencerminkan bagaimana anak muda Banjar mengadaptasi Sasirangan ke dalam gaya kekinian, mengubahnya menjadi jaket bomber, kimono outer, atau tunik panjang yang dinamis dan penuh pernyataan, sehingga memastikan bahwa nilai-nilai budaya dapat beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya. Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Banjarmasin juga aktif mempopulerkan Sasirangan di kalangan pemuda dengan menjadikannya model baju kaus, jaket, topi, bahkan masker yang mengikuti tren anak muda.
Dukungan pemerintah juga memainkan peran krusial. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Komunikasi dan Informatika serta Dekranasda Kalsel gencar mempromosikan Sasirangan di tingkat nasional maupun internasional, melalui berbagai pameran dan kegiatan seperti Inacraft dan Parade Wastra Nusantara. Mereka memberikan pelatihan, pendampingan, fasilitasi alat dan bahan produksi, serta akses pada bahan baku pewarna alami dan teknologi cetak modern untuk meningkatkan daya saing Sasirangan di pasar global. Penggunaan pewarna alami juga mulai ditekuni para perajin di Banjarmasin untuk membidik pasar global karena lebih ramah lingkungan dan diminati di pasar internasional. Pada tahun 2022, Sasirangan bersama tas purun khas Kalimantan Selatan berhasil menembus pasar Amerika dengan nilai transaksi ekspor mencapai 75.000 USD. Bahkan, pada tahun 2020, Sasirangan mendapatkan sertifikat internasional dan diakui sebagai salah satu kain terbaik yang digunakan dalam pertandingan Pencak Silat Federasi Pencak Silat Tradisional Dunia (WTPSF-FPSTI) tingkat nasional dan internasional, semakin mengukuhkan pengenalannya di mata dunia.
Dengan semangat inovasi dan kolaborasi, para pemuda Banjarmasin tidak hanya menghidupkan warisan Sasirangan, tetapi juga memastikan bahwa kain tradisional ini terus bertumbuh, melampaui batas ruang, dan menjadi kebanggaan di panggung global.