:strip_icc()/kly-media-production/medias/5412297/original/077769300_1763079585-Aktifitas_Gunung_Merapi_Yogyakarta.jpg)
Aktivitas vulkanik Gunung Merapi pada Jumat, 20 November 2025, menunjukkan peningkatan yang signifikan, mendorong Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) untuk kembali menyerukan kewaspadaan tinggi kepada masyarakat di sekitar lereng gunung. Status Merapi tetap berada pada Level III atau Siaga.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, yang bertindak atas nama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), menegaskan bahwa aktivitas erupsi Merapi masih bersifat efusif dan tinggi, serta memerlukan kewaspadaan. Data pemantauan periode 14–20 November 2025 menunjukkan suplai magma masih berlangsung, yang berpotensi memicu awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya.
Pada Jumat, 20 November 2025 malam, pukul 21.23 WIB, satu kejadian awan panas guguran teramati meluncur sejauh 2.000 meter ke arah barat daya. Peristiwa ini terekam seismograf di Pos Pemantauan Gunung Merapi dengan amplitudo maksimum 57 mm dan durasi 206 detik. Selain itu, puluhan guguran lava juga teramati mengarah ke hulu Kali Krasak, Bebeng, serta Kali Sat/Putih, dengan jarak luncur maksimal mencapai 1.900 meter. Pada pengamatan tengah malam hingga pagi hari di tanggal yang sama (00.00-06.00 WIB), tercatat tiga kali guguran lava ke arah barat daya (Kali Krasak) dengan jarak luncur maksimum 1.500 meter. Sedangkan pada periode 12.00 hingga 18.00 WIB, tercatat 29 kali gempa guguran.
Dari sisi kegempaan, aktivitas seismik Merapi juga masih menunjukkan intensitas yang tinggi dan relatif sama dibandingkan minggu sebelumnya. BPPTKG mencatat adanya satu gempa awan panas, enam gempa vulkanik dangkal, 434 gempa fase banyak, dua gempa low frequency, 530 gempa guguran, serta enam gempa tektonik selama periode 14-20 November 2025. Secara spesifik pada 20 November 2025, tercatat 15 kali gempa guguran pada dini hari, dan pada periode 12.00-18.00 WIB, terekam 29 gempa guguran, 14 gempa Hybrid/Fase Banyak, serta 1 gempa Tektonik Jauh.
Analisis visual melalui kamera pemantau di Ngepos dan Babadan menunjukkan sedikit perubahan pada Kubah Barat Daya akibat akumulasi material dan aktivitas guguran. Volume Kubah Barat Daya mencapai 4,3 juta meter kubik, sementara Kubah Tengah sekitar 2,36 juta meter kubik.
Mengingat kondisi tersebut, BPPTKG menegaskan kembali potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas di sektor selatan-barat daya. Area yang berpotensi terdampak meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 km. Di sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol sejauh 5 km. Lontaran material eksplosif dari puncak berpotensi menjangkau radius 3 km.
Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di daerah potensi bahaya. Selain itu, masyarakat juga diminta mewaspadai bahaya awan panas guguran maupun lahar, terutama saat terjadi hujan. Abu vulkanik dari erupsi juga perlu diantisipasi. Pemerintah daerah Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten juga diminta untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan melakukan upaya mitigasi.