Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Insiden Keracunan Massal Ngawi: 79 Pelajar Tumbang Diduga Akibat Menu MBG

2025-11-27 | 23:16 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-27T16:16:39Z
Ruang Iklan

Insiden Keracunan Massal Ngawi: 79 Pelajar Tumbang Diduga Akibat Menu MBG

Sebanyak sekitar 79 pelajar di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, diduga mengalami keracunan massal setelah menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu (26/11/2025) siang. Insiden ini terjadi di beberapa sekolah di Kecamatan Kedunggalar, meliputi SMPN 2 Kedunggalar, SDN Jenggrik 2, SDN Jenggrik 6, dan SDN Gemarang 5. Beberapa laporan terbaru pada Kamis (27/11/2025) bahkan menyebutkan jumlah korban bertambah hingga 87 atau 98 siswa yang mendapatkan penanganan medis.

Para pelajar yang menjadi korban dilarikan ke Puskesmas Gemarang dengan keluhan mual, muntah, pusing, sakit perut, dan diare. Kapolsek Kedunggalar AKP Karno mengonfirmasi dugaan keracunan usai menyantap menu MBG yang dilaporkan sekitar pukul 11.15 WIB. Menurut kesaksian salah seorang siswi SMPN 2 Kedunggalar, Dwi Nur Aini, menu telur puyuh bumbu kuning yang disajikan terasa amis dan tidak enak. Siswa lain, Aringga Indra Permadi, juga mencium bau tak sedap dan menemukan tekstur lengket serta berlendir pada telur puyuh yang ia terima, sehingga memilih untuk tidak memakannya.

Dinas Kesehatan Ngawi telah melakukan penanganan terhadap seluruh korban dan mengambil sampel sisa makanan, termasuk telur puyuh, serta muntahan siswa untuk diuji di laboratorium Surabaya guna memastikan penyebab keracunan. Kepala Dinas Kesehatan Ngawi Heri Nur Fahrudin menyatakan bahwa pihaknya sedang menunggu hasil uji lab tersebut.

Penyedia makanan MBG yang diduga menjadi penyebab keracunan ini adalah Satuan Pelayanan Pengolahan Gizi (SPPG) Desa Kawu. SPPG tersebut diketahui baru beroperasi sekitar delapan hari dan menurut Ketua DPRD Kabupaten Ngawi Yuwono Kartiko, belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) yang merupakan dokumen wajib untuk menjamin standar higienitas dapur pengolahan. Dugaan awal mengarah pada proses pengolahan dan distribusi makanan, di mana telur puyuh dimasak sejak pukul 02.00 WIB dini hari namun baru dibagikan sekitar pukul 09.00 WIB, rentang waktu yang diduga memicu makanan rusak sebelum dikonsumsi. Perwakilan SPPG Desa Kawu, Agus Wijayanto, menyampaikan akan menunggu hasil uji lab dan berencana menggelar rapat internal untuk mengevaluasi serta memperbaiki tahapan pengolahan dan pendistribusian makanan.

Mengingat banyaknya korban, sejumlah orang tua siswa meminta agar program MBG dihentikan sementara untuk dievaluasi menyeluruh. Kasus keracunan makanan akibat program MBG di Ngawi ini bukan kali pertama terjadi, sebelumnya pada Oktober 2025, puluhan siswa di Kecamatan Sine juga mengalami keracunan dengan penyebab ditemukannya bakteri pada menu ayam lada hitam dan sayur. Hingga saat ini, sebagian besar siswa yang dirawat sudah membaik dan diperbolehkan pulang, namun dua pelajar dilaporkan masih menjalani perawatan intensif di Puskesmas Gemarang.