:strip_icc()/kly-media-production/medias/5394982/original/071066000_1761647953-Hudoq_Pekayang__3_.jpeg)
Di jantung pedalaman Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, napas leluhur terus berhembus kencang melalui Hudoq Pekayang, sebuah ritual sakral dan tradisi budaya yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Dayak Bahau. Lebih dari sekadar pertunjukan seni, Hudoq Pekayang merupakan cerminan nilai-nilai kebersamaan, toleransi, gotong royong, dan musyawarah mufakat yang mendalam.
Ritual ini secara harfiah merujuk pada "hudoq" yang berarti topeng atau menjelma, dan "pekayang" yang bermakna saling mengunjungi, menandai berakhirnya masa menugal atau menanam padi gunung. Hudoq Pekayang dilaksanakan setiap tahun, umumnya antara bulan September hingga November, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas selesainya penanaman padi dan permohonan agar hasil panen melimpah serta membawa kemakmuran.
Tarian Hudoq Pekayang sendiri dimaksudkan untuk mengenang jasa para leluhur yang berada di alam nirwana, diyakini akan senantiasa mengawasi anak cucu mereka saat musim menanam padi tiba. Para penari Hudoq, yang dipercaya mewakili roh penjaga alam dan kesuburan tanah, mengenakan topeng kayu unik yang melambangkan roh leluhur, dewa, atau bahkan jenis-jenis hama yang mengancam tanaman padi. Kostum penari terbuat dari kulit kayu dan dilapisi daun pisang atau daun pinang, dilengkapi dengan tongkat dan mahkota dari bulu burung enggang.
Gerakan tarian yang magis, diiringi tabuhan tubung (gendang) dan gong, serta alat musik tradisional Suku Dayak Kenyah seperti jatung utang, memiliki makna simbolis untuk mengusir hama dan memohon berkah dari roh leluhur dan alam. Ritual ini terdiri dari empat sesi sarat makna, dimulai dengan Sak Baaq Hudoq (memberi makan topeng), dilanjutkan dengan Tengaran Hudoq (berbicara dalam bahasa Hudoq), Ngenyah Hudoq (tarian perwakilan Hudoq tuan rumah), dan diakhiri dengan Ngaraang Aruq/Ngarang Hudoq (tarian panjang bersama dalam lingkaran).
Setiap tahunnya, seluruh warga dari 13 kampung di Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu, berkumpul untuk mempersiapkan dan menggelar acara ini bersama-sama. Semangat gotong royong bukan hanya terlihat dalam penyelenggaraan ritual, tetapi juga dalam upaya merenovasi bangunan penduduk yang membutuhkan perbaikan.
Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu menunjukkan komitmen kuat dalam pelestarian budaya ini. Hudoq Pekayang telah menjadi agenda pariwisata tahunan dan pada tahun 2024 serta 2025, Festival Hudoq Pekayang masuk dalam program Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, dengan tema "Hudoq Lestari Mahulu Berseri" untuk tahun 2024. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan dan memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat. Para pemimpin daerah juga menekankan pentingnya memperkenalkan tradisi ini kepada generasi muda agar tidak tercerabut dari akar budayanya, membentuk karakter yang kuat, solidaritas sosial, dan semangat gotong royong.
Hudoq Pekayang bukan hanya sekadar perayaan adat, melainkan napas kolektif masyarakat Mahakam Ulu untuk menjaga harmoni dengan alam dan leluhur mereka, simbol syukur, kesejahteraan, serta fondasi moral dan spiritual yang menghidupkan arah pembangunan daerah.