:strip_icc()/kly-media-production/medias/5424742/original/054960900_1764153693-ad421132-1634-42b4-a0bf-09682d7fcf6a.jpeg)
Bencana hidrometeorologi beruntun telah meluluhlantakkan Sumatera Utara sejak 24 hingga 26 November 2025, menyebabkan 11 kabupaten dan kota porak-poranda diterjang banjir dan tanah longsor. Data terbaru mencatat setidaknya 34 orang meninggal dunia dan 52 warga lainnya masih dalam pencarian akibat rangkaian bencana ini. Sebanyak 175 orang secara keseluruhan terdampak bencana yang juga menyebabkan 37 orang luka ringan dan 6 luka berat.
Curah hujan ekstrem dengan intensitas sangat tinggi selama beberapa hari memicu setidaknya 86 kejadian bencana di wilayah tersebut. Insiden tanah longsor mendominasi dengan 59 kejadian, diikuti 21 titik banjir, 4 pohon tumbang, dan 2 puting beliung. Kabupaten yang terdampak parah meliputi Mandailing Natal (Madina), Nias Selatan (Nisel), Pakpak Bharat, Serdang Bedagai (Sergai), Tapanuli Tengah (Tapteng), Tapanuli Utara (Taput), Nias, Tapanuli Selatan (Tapsel), Humbang Hasundutan (Humbahas), Kota Padang Sidempuan, dan Kota Sibolga.
Kabupaten Tapanuli Selatan menjadi salah satu daerah dengan dampak korban jiwa terbesar, dengan 12 orang meninggal dunia dan 2.851 warga terpaksa mengungsi. Di Tapanuli Selatan, bencana ini melanda 11 kecamatan, termasuk Sipirok, Marancar, Batangtoru, Angkola Barat, Muara Batangtoru, Angkola Sangkunur, Angkola Selatan, Sayur Matinggi, Batang Angkola, Tanah Timbangan, dan Angkola Muaratais. Kota Sibolga juga mencatat dampak signifikan dengan 9 korban meninggal dunia, sedangkan Tapanuli Tengah melaporkan 4 korban jiwa. Banjir bandang dan tanah longsor di Tapanuli Tengah merendam 1.902 unit rumah dan menyebabkan satu warga hilang di Kelurahan Hamopan Sibatu, Padang Sidempuan, akibat terseret arus sungai.
Kerusakan infrastruktur juga meluas, termasuk putusnya dua jembatan penghubung di Tapanuli Utara yang menghambat akses di Kecamatan Simangumban dan Purbatua. Banyak akses jalan utama, seperti ruas Jalan Tarutung–Sibolga, masih terputus akibat timbunan material longsor, membuat sejumlah wilayah terisolasi. Jaringan listrik, internet, dan telepon juga terganggu di beberapa lokasi, menyulitkan upaya evakuasi dan koordinasi. Secara keseluruhan, sedikitnya 330 rumah warga dilaporkan rusak berat.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara telah menurunkan tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) beserta peralatan evakuasi seperti perahu karet, mesin perahu, dan dongkrak angin. BPBD juga menyiapkan bantuan bahan pokok senilai Rp60 juta dan berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk dana siap pakai. Kepala Pusat Data BNPB, Abdul Muhari, menegaskan data korban masih bersifat sementara dan dapat terus berkembang seiring proses kaji cepat di lapangan.
BNPB telah mengerahkan tim yang dipimpin Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi untuk melakukan koordinasi dan penyusunan langkah penanganan darurat. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dijadwalkan meninjau langsung lokasi terdampak di Sibolga pada Kamis (27/11/2025) atas perintah Presiden Prabowo Subianto. BNPB juga akan mengerahkan helikopter jenis Airbus untuk evakuasi dan pesawat Caravan untuk operasi modifikasi cuaca guna membantu penanganan bencana. Polda Sumut mengerahkan 492 personel untuk membantu proses evakuasi dan pengamanan. Ketua DPR RI, Puan Maharani, turut mendesak pemerintah untuk mempercepat proses evakuasi korban, memenuhi kebutuhan logistik, dan menyiapkan layanan trauma healing bagi para penyintas. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah I mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, tanah longsor, angin kencang, dan gelombang tinggi karena cuaca ekstrem yang diprediksi masih akan berlanjut.