:strip_icc()/kly-media-production/medias/5426587/original/001193100_1764310556-rumah_warga_medan_banjir.jpeg)
Hujan deras tanpa henti yang mengguyur Kota Medan dan sebagian besar wilayah Sumatera Utara sejak Rabu malam hingga Jumat pagi telah memicu bencana banjir terparah dalam beberapa dekade terakhir, menciptakan kengerian yang mendalam bagi ribuan warganya selama 24 jam terakhir. Sedikitnya 19 dari 21 kecamatan di Medan terendam air, melumpuhkan aktivitas kota dan menyebabkan keputusasaan di banyak sudut.
Air mulai naik secara tiba-tiba, seringkali pada dini hari Kamis, mengejutkan warga yang sedang terlelap. Di Kompleks Griya Bestari, Pasar IV Marelan, Ramadhan (nama disamakan) menceritakan bagaimana air mencapai setinggi perut orang dewasa dalam waktu singkat, membuat banyak keluarga tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga mereka. Perabotan rumah tangga, alat elektronik, dan dokumen penting ludes terendam atau hanyut terbawa arus. Kondisi ini diperparah dengan padamnya aliran listrik di banyak area, meninggalkan warga dalam kegelapan dan kebingungan total di tengah kepungan air.
Jalan-jalan utama yang vital, seperti Letda Sujono, Williem Iskandar, Dr Mansyur, Setia Budi, Gatot Subroto, Helvetia, Marelan, Mongonsidi, Kampung Lalang, Mencirim, Karya, Yos Sudarso, serta Hayam Wuruk, Iskandar Muda, DI Panjaitan, Sei Mencirim, dan Wahid Hasyim, berubah menjadi sungai. Ratusan kendaraan roda dua dan empat terjebak, mogok, dan tidak dapat melintas, memaksa sebagian warga seperti Aida harus berjalan kaki selama tiga jam menembus genangan air setinggi paha untuk pulang dari tempat kerjanya, karena layanan ojek daring tak ada yang beroperasi. Bahkan, rumah dinas Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, juga ikut terendam, menunjukkan skala parahnya bencana ini.
Kisah mencekam dialami Nenek Sulasih (83) di Jalan Abadi, belakang Polsek Sunggal, yang harus bertahan selama lima jam di loteng rumah tetangganya sebelum akhirnya berhasil dievakuasi petugas menggunakan perahu karet. Ia sempat hanya mengandalkan ban dalam dari warga sebelum bantuan tiba. Sementara itu, di Helvetia Timur, satu keluarga termasuk seorang ayah berusia 88 tahun yang menggunakan kursi roda, terjebak selama lebih dari 24 jam tanpa pasokan makanan dan kebutuhan dasar, karena bantuan sulit menjangkau lokasi mereka. Banyak warga di Marelan dan sekitarnya juga mengeluhkan ketiadaan bantuan pangan dan air bersih, serta kesulitan akses evakuasi.
Banjir ini, menurut Kepala BPBD Kota Medan, Yunita Sari, disebabkan oleh hujan deras yang terus-menerus dan meluapnya tiga sungai besar yang membelah Kota Medan: Sungai Deli, Sungai Babura, dan Sungai Belawan. Kondisi cuaca ekstrem ini diperburuk oleh dampak Siklon Tropis Senyar yang sebelumnya teridentifikasi sebagai Bibit Siklon 95B, serta aktivitas Gelombang Rossby Ekuator dan dinamika atmosfer global lainnya. Riset juga menunjukkan perluasan perkebunan monokultur turut memperparah frekuensi dan tingkat keparahan banjir di Indonesia, termasuk di Sumatera.
Hingga Jumat (28/11/2025), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan masih terus melakukan pendataan jumlah rumah dan warga yang terdampak, yang diperkirakan mencapai 24.874 jiwa dan 7.600 rumah terendam. Wali Kota Medan, Rico Waas, telah menginstruksikan seluruh camat untuk mempercepat evakuasi warga dan menyiapkan dapur umum di lokasi pengungsian seperti masjid dan kantor lurah/kecamatan. Tim gabungan dari Polri, TNI, Basarnas, BPBD, dan Pemko Medan telah diterjunkan untuk operasi penyelamatan, evakuasi, dan penanganan dampak. Namun, skala bencana yang luas dan terganggunya jaringan komunikasi di beberapa wilayah, menjadi tantangan besar dalam upaya penanggulangan. Peringatan akan potensi longsor susulan juga telah dikeluarkan, menambah kekhawatiran warga.