Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Update ATR 42-500: Jenazah Pertama Korban Dievakuasi Kamis Malam, Lima Lainnya Siap Terbang

2026-01-22 | 22:42 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-22T15:42:10Z
Ruang Iklan

Update ATR 42-500: Jenazah Pertama Korban Dievakuasi Kamis Malam, Lima Lainnya Siap Terbang

Sebanyak enam jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dievakuasi tim SAR gabungan dari lereng Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, Kamis (22/1/2026), menambah total delapan korban yang ditemukan sejak pesawat itu jatuh pada 17 Januari 2026. Satu jenazah berhasil diangkat pada Kamis malam melalui teknik vertical rescue yang menantang, sementara lima lainnya akan menyusul lewat udara jika kondisi cuaca memungkinkan. Operasi ini menyoroti kompleksitas evakuasi di medan ekstrem dan tekanan pada tim penyelamat untuk mengidentifikasi seluruh korban yang berjumlah sepuluh orang di pesawat yang bertugas sebagai pengawas maritim.

Pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT, yang disewa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk misi air surveillance, hilang kontak saat dalam perjalanan dari Yogyakarta menuju Makassar. Puing-puing pesawat ditemukan hancur di Gunung Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Minggu (18/1/2026). Insiden ini melibatkan tujuh kru dan tiga penumpang KKP. Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Andi Sultan, menjelaskan bahwa enam korban terbaru ditemukan pada Kamis pagi di titik koordinat yang berdekatan di kawasan puncak Bulusaraung, dengan satu di antaranya berhasil diangkat dari jurang sekitar 350 meter. "Masih ada lima paket lain yang akan dievakuasi," tegas Andi Sultan, menyoroti tantangan medan terjal dan cuaca yang cepat berubah sebagai kendala utama.

Sebelumnya, tim SAR telah berhasil mengevakuasi dan mengidentifikasi dua jenazah korban, yakni pramugari Florencia Lolita Wibisono dan pegawai KKP Deden Maulana. Proses identifikasi jenazah menghadapi kendala signifikan akibat kondisi fisik korban yang ditemukan di kedalaman berbeda, menuntut Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan untuk menggunakan metode primer seperti odontologi dan DNA guna memastikan identitas. Kepala Basarnas RI, Marsekal Madya TNI (Purn) Mohammad Syafii, menyatakan tim DVI berproses secara cermat untuk mengidentifikasi seluruh jenazah yang ditemukan.

Sementara upaya evakuasi korban terus berlangsung, tim SAR gabungan juga berhasil menemukan Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR) atau kotak hitam pesawat pada Rabu (21/1/2026) dan berhasil dievakuasi Kamis (22/1/2026). Kedua perangkat penting ini, yang ditemukan utuh di bagian ekor pesawat, akan diserahkan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk dianalisis guna mengungkap penyebab kecelakaan. KNKT telah mengategorikan kecelakaan ini sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT).

Kecelakaan pesawat ATR 42-500 PK-THT ini memicu pertanyaan mendalam mengenai keselamatan penerbangan, khususnya untuk pesawat yang beroperasi di wilayah pegunungan Indonesia. Pesawat berusia 25 tahun itu, dengan riwayat pernah beroperasi di Eropa sebelum bergabung dengan Indonesia Air Transport pada tahun 2010, menunjukkan profil veteran dengan jam terbang tinggi. Kecelakaan ini bukan yang pertama bagi jenis ATR di Indonesia atau dunia, mengingat insiden serupa pernah terjadi seperti Trigana Air Service pada 2015 dan Precision Air di Tanzania pada 2022.

Insiden ini menggarisbawahi pentingnya evaluasi komprehensif terhadap perawatan pesawat, pelatihan awak, serta protokol penerbangan di medan sulit. Ditemukannya kotak hitam diharapkan dapat memberikan data krusial untuk mencegah terulangnya insiden serupa. Bagi KKP, hilangnya pesawat pengawas ini berimplikasi pada kapasitas mereka dalam menjalankan misi strategis pemantauan sumber daya laut di kawasan yang luas, sementara bagi keluarga korban, proses identifikasi yang akurat menjadi prioritas utama di tengah duka mendalam. Keberhasilan operasi SAR yang melibatkan ratusan personel gabungan di tengah medan yang menantang menunjukkan dedikasi tinggi, namun juga menyoroti kebutuhan akan investasi lebih lanjut pada teknologi dan pelatihan evakuasi untuk bencana penerbangan di wilayah terpencil.