Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Tragedi ATR 42-500: Satu Jasad Ditemukan Tewas di Lokasi Puing

2026-01-19 | 12:31 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-19T05:31:36Z
Ruang Iklan

Tragedi ATR 42-500: Satu Jasad Ditemukan Tewas di Lokasi Puing

Tim SAR gabungan pada Minggu (18/1/2026) menemukan satu jenazah pria di dekat serpihan pesawat turboprop ATR 42-500 yang jatuh di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, sehari setelah pesawat tersebut hilang kontak saat mendekati Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Korban, yang belum diidentifikasi secara resmi, ditemukan di jurang sedalam sekitar 200 meter di koordinat 04°54'44" Lintang Selatan dan 119°44'48" Bujur Timur, di tengah kondisi medan ekstrem dan cuaca buruk.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar, selaku SAR Mission Coordinator (SMC), menyatakan bahwa proses evakuasi korban masih berlangsung di tengah tantangan hujan lebat dan kabut tebal yang membatasi jarak pandang hingga lima meter di puncak gunung. Kondisi ini bahkan sempat menyebabkan pembatalan penurunan vertikal demi keselamatan personel. Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dengan registrasi PK-THT, yang membawa 11 orang terdiri dari delapan kru dan tiga penumpang, dilaporkan hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026) sekitar pukul 13.17 WITA setelah lepas landas dari Yogyakarta menuju Makassar. Tiga penumpang di antaranya adalah pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang sedang menjalankan misi pemantauan udara.

Puing-puing pesawat, termasuk rangka dan kursi, serta lokasi mesin, berhasil diidentifikasi oleh tim SAR darat dan udara di area Puncak Bulusaraung, yang berada di dalam Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas, Edy Prakoso, menambahkan bahwa tim darat mencapai lokasi puing badan pesawat setelah menerima laporan awal dari tim penyisir udara. Evakuasi menggunakan helikopter belum dapat dilakukan akibat angin kencang dan kabut tebal di lokasi kecelakaan.

Identifikasi korban melalui metode Disaster Victim Identification (DVI) telah dimulai, dengan keluarga korban seperti adik dari kopilot Muhammad Farhan Gunawan, Haerul Gunawan, telah memberikan sampel DNA di posko ante-mortem Biddokkes Polda Sulawesi Selatan di Makassar. Kepala Biddokkes Polda Sulsel, Kombes Pol Muhammad Haris, menegaskan pentingnya pengumpulan data ante-mortem untuk mempercepat proses identifikasi jenazah. Keluarga pramugari Esther Aprilita juga telah memberikan sampel di Jawa Barat.

Kecelakaan ini kembali menyoroti catatan keselamatan penerbangan Indonesia yang masih menjadi perhatian. Sebagai negara kepulauan yang sangat mengandalkan transportasi udara, insiden seperti ini memiliki implikasi serius terhadap kepercayaan publik dan standar operasional penerbangan. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) diperkirakan akan memimpin penyelidikan mendalam untuk menentukan penyebab pasti kecelakaan, dengan dugaan awal pesawat menabrak lereng gunung. Hasil investigasi ini krusial untuk mencegah terulangnya insiden serupa dan memperkuat regulasi keselamatan penerbangan di masa mendatang.