Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Tragedi ATR 42-500: 11 Kantong Jenazah Ditemukan, Termasuk Satu Berisi Tulang Belulang

2026-01-23 | 17:38 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-23T10:38:16Z
Ruang Iklan

Tragedi ATR 42-500: 11 Kantong Jenazah Ditemukan, Termasuk Satu Berisi Tulang Belulang

Tim gabungan pencarian dan penyelamatan (SAR) pada Jumat, 23 Januari 2026, secara resmi mengakhiri operasi di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, setelah seluruh korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport ditemukan. Sejumlah 11 kantong berisi jenazah atau bagian tubuh korban telah diserahkan kepada Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk proses identifikasi forensik, mengakhiri pencarian selama tujuh hari sejak insiden pada 17 Januari.

Pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT itu jatuh pada Sabtu, 17 Januari 2026, saat dalam perjalanan dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar. Pesawat tersebut mengangkut 10 orang, terdiri dari tujuh awak dan tiga penumpang dari Kementerian Kelautan dan Perikanan yang sedang menjalankan misi pengawasan maritim. Kontak terakhir dengan Air Traffic Control (ATC) Makassar terjadi sekitar pukul 13:30 WITA di dekat wilayah Maros, Sulawesi Selatan, sebelum pesawat menghilang dari radar. Puing-puing pesawat ditemukan keesokan harinya, 18 Januari, tersebar di lereng curam Gunung Bulusaraung.

Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor SAR Kelas A Makassar, Andi Sultan, mengonfirmasi bahwa penemuan dua kantong terakhir pada Jumat pagi, 23 Januari 2026, pukul 08:55 dan 09:16 waktu setempat, menandai selesainya evakuasi seluruh korban. Dari 11 kantong yang diserahkan, 10 di antaranya berisi jenazah yang masih utuh dan telah diidentifikasi secara awal, sementara satu kantong berisi fragmen tulang atau bagian tubuh. "Dengan penemuan dua kantong terakhir ini, seluruh korban di lokasi telah berhasil dievakuasi," ujar Andi Sultan. Ia menambahkan bahwa jumlah pasti korban akan ditentukan oleh pihak rumah sakit melalui proses identifikasi forensik yang lebih mendalam.

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Kepolisian Republik Indonesia telah mengerahkan tim ahli forensik untuk melakukan pemeriksaan post-mortem di Rumah Sakit Bhayangkara, Makassar, sesuai protokol internasional. Data ante-mortem telah dikumpulkan dari sepuluh anggota keluarga untuk memfasilitasi rekonsiliasi dengan bukti fisik. Hingga saat ini, dua korban telah berhasil diidentifikasi: Deden Maulana, seorang pejabat Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan Florencia Lolita Wibisono, seorang pramugari berusia 33 tahun.

Investigasi penyebab kecelakaan ini sedang berlangsung. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah menerima Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR) pesawat yang berhasil dievakuasi tim SAR pada 21 Januari. Kedua kotak hitam tersebut ditemukan utuh dari bagian ekor pesawat di lokasi kejadian. Kolonel Dody Triyo Hadi, Asisten Operasi Komando Daerah Militer XIV/Hasanuddin, menyatakan bahwa temuan ini telah dikirim ke KNKT untuk verifikasi dan analisis. Kondisi cuaca buruk, kabut tebal, dan medan yang curam selama operasi SAR, menunjukkan tantangan signifikan dalam evakuasi. Indikasi awal menunjukkan kemungkinan pesawat mengalami controlled flight into terrain (CFIT), di mana pesawat yang berfungsi dengan baik secara tidak sengaja diterbangkan ke daratan atau air. Kecelakaan ini kembali menyoroti kompleksitas operasional penerbangan di wilayah kepulauan Indonesia yang memiliki karakteristik geografis menantang dan cuaca yang tidak menentu. Analisis data kotak hitam diharapkan akan memberikan pemahaman krusial mengenai rangkaian peristiwa yang menyebabkan tragedi ini, berkontribusi pada peningkatan standar keselamatan penerbangan di masa mendatang.