Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Tim SAR Pacu Golden Time Selamatkan Korban Kecelakaan ATR 42-500

2026-01-19 | 16:26 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-19T09:26:28Z
Ruang Iklan

Tim SAR Pacu Golden Time Selamatkan Korban Kecelakaan ATR 42-500

Tim Search and Rescue (SAR) gabungan di Sulawesi Selatan berpacu dengan "golden time" dalam operasi pencarian dan evakuasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Maros-Pangkep, setelah hilang kontak pada Sabtu, 17 Januari 2026. Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menegaskan, fokus utama operasi adalah pencarian korban, dengan harapan dapat ditemukan dalam kondisi selamat.

Pesawat dengan nomor registrasi PK-THT tersebut membawa 10 orang, terdiri dari tujuh kru pesawat dan tiga penumpang, dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar. Kontak terakhir dengan Air Traffic Control (ATC) terputus saat pesawat berada di wilayah pegunungan terjal dan akses terbatas di Leang-Leang, Maros, sekitar pukul 13.17 WITA. Dalam waktu kurang dari 24 jam sejak laporan hilang, tim SAR gabungan berhasil menemukan lokasi kecelakaan di lereng Gunung Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkajene Kepulauan. Serpihan pesawat, termasuk bagian dinding dan buku pilot, ditemukan pertama kali oleh pendaki. Kemudian, badan dan ekor pesawat juga ditemukan di lokasi yang didominasi perbukitan curam dan lembah sempit, sekitar 50 kilometer di utara Kota Makassar.

Konsep "golden time" menjadi krusial dalam operasi SAR, merujuk pada periode kritis 24 hingga 72 jam pertama setelah insiden, di mana peluang korban untuk bertahan hidup masih tinggi. Kepala Basarnas, Marsekal Madya Mohammad Syafii, menyatakan bahwa tim SAR saat ini berada dalam fase "golden time" dan berharap adanya keajaiban dalam upaya penyelamatan. Namun, operasi ini dihadapkan pada tantangan berat berupa cuaca ekstrem, hujan lebat, kabut tebal dengan jarak pandang terbatas sekitar lima meter di puncak, serta medan pegunungan yang terjal dan sulit dijangkau. Kondisi geografis Gunung Bulusaraung, dengan ketinggian sekitar 1.353 meter di atas permukaan laut dan lereng yang sangat curam, menambah kompleksitas misi penyelamatan.

Kendala lain yang muncul adalah dugaan kerusakan pada Emergency Location Transmitter (ELT) pesawat, yang seharusnya memancarkan sinyal darurat untuk mempercepat penemuan lokasi. Tim SAR gabungan yang melibatkan lebih dari 1.200 personel dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, serta relawan, telah mengerahkan berbagai sumber daya. Muhammad Arif Anwar, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku Sar Mission Coordinator (SMC), menyatakan bahwa tim dihadapkan pada cuaca hujan lebat dan kabut tebal yang berdampak pada pergerakan tim, bahkan sempat terjadi pembatalan penurunan vertikal demi keselamatan personel.

Basarnas menyiapkan dua opsi evakuasi: melalui jalur udara menggunakan helikopter Caracal jika cuaca memungkinkan, dan melalui jalur darat menggunakan sistem tali dan tandu untuk kondisi yang tidak memungkinkan evakuasi udara. Selain evakuasi korban, Basarnas juga berencana mengangkat sejumlah bagian pesawat untuk mendukung investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dalam menentukan penyebab pasti kecelakaan, yang diduga menabrak lereng gunung atau Controlled Flight Into Terrain (CFIT). Tragedi ini kembali menggarisbawahi tantangan penerbangan di wilayah dengan kontur geografis ekstrem seperti Sulawesi Selatan dan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap aspek keselamatan, navigasi, dan mitigasi risiko. Pemerintah memastikan seluruh proses pencarian dan penanganan dilakukan sesuai prosedur keselamatan dan standar internasional, serta mendukung penuh proses investigasi lanjutan.