Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Semeru Erupsi Dahsyat: Kolom Abu 900 Meter dan 30 Gempa Letusan Guncang Wilayah

2026-01-02 | 20:23 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-02T13:23:44Z
Ruang Iklan

Semeru Erupsi Dahsyat: Kolom Abu 900 Meter dan 30 Gempa Letusan Guncang Wilayah

Gunung Semeru di Jawa Timur kembali menunjukkan aktivitas vulkanik signifikan pada Jumat, 2 Januari 2026, dengan erupsi yang melontarkan kolom abu setinggi 900 meter di atas puncaknya dan mencatatkan puluhan gempa letusan. Peristiwa ini terjadi pada pukul 18.54 WIB, memperkuat status Siaga (Level III) gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut.

Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), kolom abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang, bergerak ke arah utara. Erupsi tersebut terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 22 milimeter dan durasi 138 detik. Sejak awal tahun 2026, Semeru telah mengalami 17 kali erupsi. Dalam pengamatan kegempaan pada 2 Januari 2026, tercatat 34 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 12-22 milimeter dan durasi gempa 93-145 detik, serta 1 kali gempa harmonik.

Aktivitas vulkanik Semeru yang berulang ini bukan hal baru. Gunung Semeru merupakan salah satu gunung berapi teraktif di Indonesia dengan riwayat letusan yang panjang sejak tahun 1818. Letusan signifikan yang terekam pada 1941-1942, 1977, dan 1994, serta letusan paling mematikan pada 4 Desember 2021, menunjukkan karakteristik letusan eksplosif dan efusif yang sering disertai awan panas guguran dan lahar. Letusan pada November 2025 bahkan sempat meningkatkan status Semeru ke Level IV (Awas) karena awan panas guguran yang mencapai 13 km. Namun, statusnya kemudian diturunkan menjadi Level III (Siaga) pada akhir November 2025 setelah aktivitas menunjukkan penurunan, ditandai dengan aktivitas letusan berskala kecil-menengah yang tidak diikuti penguatan suplai magma baru yang signifikan.

Meskipun statusnya saat ini Siaga, PVMBG secara konsisten mengeluarkan rekomendasi ketat bagi masyarakat. Petugas Pos Pantau Gunung Semeru, Liswanto, mengimbau warga dan wisatawan untuk tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 kilometer dari puncak (pusat erupsi). Di luar radius tersebut, masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai Besuk Kobokan karena potensi perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak. Ancaman bahaya lontaran batu pijar juga membuat aktivitas dilarang dalam radius 5 kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru. Selain itu, potensi awan panas, guguran lava, dan lahar dingin harus diwaspadai, terutama di Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta anak-anak sungainya, mengingat banyaknya material vulkanik yang telah terakumulasi, yang dapat memicu banjir lahar dingin saat musim hujan.

Dampak erupsi Semeru tidak hanya pada ancaman langsung. Letusan sebelumnya pada November 2025 mengakibatkan tiga orang luka berat dan 21 unit rumah rusak berat di Desa Supiturang, Oro-Oro Ombo, Kecamatan Pronojiwo, dan Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. Lahan pertanian seluas 204,63 hektare juga mengalami kerusakan. Status tanggap darurat telah ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Lumajang dalam menghadapi situasi ini. Bantuan logistik dan kebutuhan dasar telah disalurkan kepada warga terdampak dan pengungsi oleh BNPB. Peningkatan aktivitas Semeru ini secara langsung memengaruhi kehidupan masyarakat sekitar, baik dari segi keamanan, ekonomi, maupun psikologis, serta menuntut kesiapsiagaan berkelanjutan dari pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat.