:strip_icc()/kly-media-production/medias/5339563/original/068469500_1757063477-4.jpg)
Taman Margasatwa Ragunan di Jakarta Selatan mencatat akumulasi 408.755 pengunjung selama periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, dari 23 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026, menegaskan posisinya sebagai destinasi rekreasi utama ibu kota di tengah lonjakan mobilitas masyarakat. Puncak kunjungan terjadi pada 1 Januari 2026 dengan 113.398 orang memadati area seluas 147 hektar tersebut, melampaui prediksi pengelola yang berkisar antara 80.000 hingga 100.000 pengunjung pada hari pertama tahun baru.
Kepala Humas Taman Margasatwa Ragunan, Wahyudi Bambang, menyatakan lonjakan ini mencerminkan tingginya antusiasme publik untuk berekreasi dan mendapatkan edukasi satwa selama masa libur panjang. Ia menyebut Ragunan sebagai salah satu objek wisata favorit warga Jakarta dan sekitarnya karena tawaran edukasi satwa dan predikatnya sebagai kawasan hijau ibu kota dengan koleksi lebih dari 2.009 ekor satwa dan ribuan pohon.
Lonjakan kunjungan mulai terlihat sejak menjelang Hari Raya Natal, dengan 13.772 pengunjung pada 23 Desember 2025, dan meningkat tajam menjadi 50.933 orang pada 25 Desember 2025. Meskipun sempat menurun pada 26 Desember menjadi 27.753 pengunjung, jumlahnya kembali melonjak pada 27 dan 28 Desember dengan masing-masing 48.545 dan 77.497 pengunjung. Menjelang pergantian tahun, jumlah pengunjung pada 31 Desember 2025 tercatat 14.217 orang, sebelum mencapai puncaknya di Hari Tahun Baru 2026.
Tren kunjungan yang masif ini bukan fenomena baru bagi Ragunan. Pada libur Lebaran 2025, Ragunan mencatat 455.000 pengunjung, sementara libur Tahun Baru Islam 1447 Hijriah pada akhir Juni 2025 menarik 134.943 wisatawan. Peningkatan sebesar 21 persen juga tercatat pada libur Natal 2025 dibandingkan Natal 2024, dari 41.850 menjadi 50.993 pengunjung. Perbandingan data menunjukkan Ragunan secara konsisten menjadi tujuan utama warga, dengan jumlah pengunjung di Tahun Baru 2026 yang sedikit di bawah 119.000 pengunjung pada Tahun Baru sebelumnya, namun tetap signifikan.
Menghadapi arus pengunjung yang masif, pengelola Ragunan menerapkan serangkaian langkah antisipasi. Jam operasional dimajukan satu jam lebih awal, menjadi pukul 06.00 hingga 16.30 WIB, berlaku dari 25 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026. Polda Metro Jaya juga mengerahkan 151 personel keamanan, membentuk pusat panggilan darurat 110, serta menyiagakan patroli jalan kaki, patroli skuter listrik, dan ambulans di area kebun binatang. Kapolda Metro Jaya Irjen Polisi Asep Edi Suheri bahkan melakukan peninjauan langsung untuk memastikan keamanan dan ketertiban. Pengelola juga melakukan penopingan dan penebangan pohon yang berisiko tumbang di jalur pengunjung serta penggantian dengan pohon baru.
Meskipun upaya antisipasi telah dilakukan, lonjakan pengunjung memunculkan sejumlah tantangan. Kepadatan lalu lintas menjadi isu, terutama di pintu masuk utara, memicu rencana evaluasi pengaturan distribusi lalu lintas oleh manajemen bersama pihak kepolisian. Kapasitas parkir yang menampung hingga 6.000 mobil dan 12.000 sepeda motor nyaris penuh pada 1 Januari 2026, menyoroti tekanan pada infrastruktur. Aspek keamanan pribadi juga menjadi perhatian, dengan pengelola mengimbau pengunjung untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi pencurian di titik-titik rawan seperti teraterium kandang ular, kandang burung, dan kereta keliling, mengingat laporan kehilangan ponsel pada periode libur sebelumnya.
Keberhasilan Ragunan menarik ratusan ribu pengunjung selama periode libur akhir tahun hingga awal 2026 menggarisbawahi peran vitalnya sebagai ruang publik yang terjangkau dan edukatif di tengah padatnya metropolitan Jakarta. Namun, hal ini juga menuntut pengelolaan yang berkelanjutan dan adaptif. Ke depan, perhatian terhadap dampak jangka panjang dari kepadatan pengunjung terhadap kesejahteraan satwa dan peningkatan kualitas fasilitas serta keamanan akan menjadi kunci dalam mempertahankan daya tarik dan relevansi Ragunan sebagai kebun binatang modern dan identitas kota Jakarta. Wahyudi Bambang menyatakan optimisme terhadap kelanjutan keramaian hingga akhir pekan berikutnya seiring masa libur sekolah yang belum usai.