:strip_icc()/kly-media-production/medias/5476390/original/013666300_1768740984-122594.jpg)
Tim SAR gabungan menemukan puing-puing signifikan, termasuk mesin dan kursi pesawat ATR 42-500, di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Minggu, 18 Januari 2026, menyusul hilangnya pesawat dengan nomor registrasi PK-THT pada Sabtu, 17 Januari 2026. Pesawat yang dioperasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT) tersebut membawa 10 orang, terdiri dari tujuh kru dan tiga penumpang dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar saat kehilangan kontak radar. Penemuan ini mengonfirmasi dugaan kuat Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) bahwa pesawat mengalami controlled flight into terrain (CFIT) atau menabrak lereng gunung.
Operasi pencarian dan evakuasi korban menghadapi kendala serius akibat cuaca buruk dan medan ekstrem. Hujan lebat disertai kabut tebal membatasi jarak pandang hingga 3-5 meter di lokasi penemuan, yang berada di ketinggian sekitar 1.353 meter di atas permukaan laut. Kondisi ini diperparah oleh medan pegunungan karst yang terjal dengan kemiringan mencapai 80-90 derajat, menyulitkan pergerakan tim dan penarikan jenazah dari jurang sedalam sekitar 200 meter. Muhammad Arif Anwar, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar sekaligus SAR Mission Coordinator (SMC), menjelaskan bahwa cuaca ekstrem telah berdampak pada pergerakan tim, termasuk pembatalan penurunan vertikal demi keselamatan personel.
Tim SAR gabungan, yang melibatkan sekitar 393 personel dari TNI, Polri, Basarnas, relawan, dan warga setempat, berhasil menemukan satu jenazah korban berjenis kelamin laki-laki pada Minggu siang, sekitar pukul 13.30 WITA. Namun, jenazah tersebut belum dapat dievakuasi hingga Minggu malam karena kondisi cuaca dan medan yang tidak memungkinkan. "Untuk pencarian hari ini kami laksanakan bersama tim dan sudah menemukan satu korban. Namun sampai saat ini belum bisa dievakuasi karena terkendala kondisi cuaca," kata Kepala Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Makassar, Andi Sultan. Tim di lokasi memutuskan untuk mendirikan camp dan menunda proses evakuasi hingga Senin pagi, 19 Januari 2026, dengan harapan cuaca membaik. Rencana evakuasi mencakup dua opsi: jalur darat menggunakan sistem tali dan tandu, serta evakuasi udara dengan helikopter jika kondisi cuaca mendukung dan titik pendaratan aman dapat ditemukan.
Di samping penemuan puing dan satu korban, tim juga menemukan perangkat Emergency Location Transmitter (ELT), meskipun bukan kotak hitam utama (black box) pesawat. Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menegaskan bahwa pihaknya masih jauh dari menyimpulkan penyebab kecelakaan dan masih dalam tahap mengumpulkan informasi. KNKT secara khusus meminta tim SAR memprioritaskan pencarian kotak hitam yang berada di bagian ekor pesawat untuk investigasi lebih lanjut. Investigasi awal KNKT juga menyebut adanya dugaan bahwa ELT tidak berfungsi karena hancur saat benturan, menyulitkan pencarian lokasi pesawat secara cepat. Direktur Operasional Indonesia Air Transport, Capt Edwin, mengungkapkan bahwa pesawat ATR 42-500 tersebut sempat mengalami masalah mesin pada Jumat, 16 Januari 2026, namun telah diperbaiki dan dinyatakan layak terbang sebelum insiden. Insiden ini menambah daftar kecelakaan pesawat ATR di Indonesia dan dunia, menyoroti tantangan keselamatan penerbangan di wilayah dengan karakteristik geografis dan cuaca ekstrem. Upaya identifikasi korban melalui sampel DNA dari keluarga juga telah dimulai. Keseluruhan operasi SAR dan investigasi diproyeksikan akan membutuhkan waktu dan koordinasi yang intensif mengingat kompleksitas medan dan kondisi cuaca di Bulusaraung.